Ranah Ontologi
1)
Pengertian
Ontologi
1.
Menurut bahasa, Ontology berasal dari
bahasa Yunani yaitu : On/Ontos = ada, dan
Logos = ilmu. Jadi, ontologi adalah ilmu tentang yang ada.
2. Menurut istilah, Ontology adalah ilmu yang membahas tentang
hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality baik yang berbentuk
jasmani/konkret maupun rohani/abstrak (Bakhtiar , 2004).
3.
Menurut Suriasumantri (1985), Ontology
membahas tentang apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu,
atau, dengan kata lain suatu pengkajian mengenai teori tentang “ada”. Telaah
ontologis akan menjawab pertanyaan-pertanyaan :
a. apakah
obyek ilmu yang akan ditelaah,
b. bagaimana
wujud yang hakiki dari obyek tersebut, dan
c. bagaimana
hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir,
merasa, dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan.
2) Ontologi Sains/Ilmu
Ilmu atau science secara harfiah
berasal dari kata Latin scire yang berarti mengetahui. Karena itu, science
dapat diartikan “situasi” atau fakta mengetahui, sepadan dengan pengetahuan
(knowledge), yang merupakan lawan dari intuisi atau kepercayaan. Selanjutnya,
kata science mengalami perkembangan dan perubahan makna menjadi “pengetahuan
yang sistematis yang berasal dari observasi, kajian, dan percobaan-percobaan
yang dilakukan untuk mengetahui sifat dasar atau prinsip dari apa yang
dikaji.
Dengan demikian, sains yang berarti
“pengetahuan” berubah menjadi “pengetahuan yang sistematis yang berasal dari
observasi indrawi.” Perkembangan berikutnya, lingkup sains hanya terbatas pada
dunia fisik, sejalan dengan definisi lain tentang sains sebagai “pengetahuan
yang sistematis tentang alam dan dunia fisik”.
Dengan mensyaratkan observasi, sains harus bersifat empiris, baik
berhubungan dengan benda-benda fisik, kimia, biologi, dan astronomi maupun
berhubungan dengan psikologi dan sosiologi. Inilah karakter sains yang paling
mendasar dalam pandangan epistemologi konvensional.
Sains merupakan produk eksperimen
yang bersifat empiris. Eksperimen dapat dilakukan, baik terhadap benda-benda
mati (anorganik) maupun makhluk hidup sejauh hasil eksperimen dapat diobservasi
secara indrawi. Eksperimen pun dapat dilakukan terhadap manusia, seperti yang
dilakukan Waston dan penganut aliran behaviorisme klasik lainnya.
3)
`Struktur
Sains
Dalam
garis besar sains dibagi menjadi dua; yaitu sains kealaman dan sains sosial,
yang menjelaskan struktur sains dalam bentuk nama-nama ilmu.
a. Sains Kealaman
- Astronomi;
- Fisika ;
mekanika, bunyi, cahaya, dan optic, fisika, nuklir;
- Kimia ; kimia organik, kimia teknik;
- Ilmu bumi ; paleontology, ekologi, geofisika,
geokimia, mineralogy, geografi;
- Ilmu hayat ; biofisika, botani, zoology;
b. Sains Sosial
- Sosiologi ;
sosiologi komunikasi, sosiologi politik, sosiologi pendidikan;
- Antropologi ; antropologi budaya, antropologi
ekonomi, antropologi politik;
- Psikologi ;
psikologi pendidikan, psikologi anak, psikologi abnormal;
- Ekonomi ; ekonomi makro, ekonomi lingkungan,
ekonomi pedesaan;
- Politik ; politik dalam negeri, politik hukum,
politik internasional;
c. Berikut ada tambahan
dari dua sains di atas, yaitu :
- Seni ; seni abstrak, seni grafik, seni pahat, seni
tari;
- Hukum ; hukum pidana, hukum tata usaha negara,
hukum adat;
- Filsafat ;
logika, etika, estetika;
- Bahasa ; sastra;
- Agama ; Islam, Kristen, Confucius;
- Sejarah ;
sejarah Indonesia, sejarah dunia;
Ontologi membahas tentang yang ada,
yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang
yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi
berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan
Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua
bentuknya.
Objek formal ontologi adalah hakikat
seluruh realitas. Bagi pendekatan kuantitatif, realitas tampil dalam kuantitas
atau jumlah, tealaahnya akan menjadi kualitatif, realitas akan tampil menjadi
aliran-aliran materialisme, idealisme, naturalisme, atau hylomorphisme.
Referensi tentang kesemuanya itu penulis kira cukup banyak. Hanya dua yang
terakhir perlu kiranya
penulis
lebih jelaskan. Yang natural ontologik akan diuraikan di belakang hylomorphisme
di ketengahkan pertama oleh aristoteles dalam bukunya De Anima. Dalam
tafsiran-tafsiran para ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari
alternatif bukan dualisme, tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental.
4) Aliran aliran ONTOLOGI
Aliran Monoisme
Aliran ini berpendapat bahwa yang
ada itu hanya satu, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai
sumber yang asal, baik yang asal berupa materi ataupun berupa ruhani. Tidak
mungkin ada hakikat masing-masing bebas dan berdiri sendiri. Haruslah salah
satunya merupakan sumber yang pokok dan dominan menentukan perkembangan yang
lainnya.
Materialisme
Aliran ini menganggap bahwa sumber
yang asal itu adalah materi, bukan ruhani. Aliran ini sering juga disebut
dengan naturalisme. Menurutnya bahwa zat mati merupakan kenyataan dan
satu-satunya fakta.
Aliran pemikiran ini dipelopori oleh bapak filsafat yaitu Thales
(624-546 SM). Ia berpendapat bahwa unsur asal adalah air, karena pentingnya
bagi kehidupan. Anaximander (585-528 SM) berpendapat bahwa unsur asal itu
adalah udara, dengan alasan bahwa udara merupakan sumber dari segala kehidupan.
Demokritos (460-370 SM) berpendapat bahwa hakikat alam ini merupakan atom-atom
yang banyak jumlahnya, tak dapat dihitung dan amat halus. Atom-atom itulah yang
merupakan asal kejadian alam.
Idealisme
Idealisme diambil dari kata “idea”
yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Aliran ini menganggap bahwa dibalik
realitas fisik pasti ada sesuatu yang tidak tampak. Bagi aliran ini, sejatinya
sesuatu justru terletak dibalik yang fisik. Ia berada dalam ide-ide, yang fisik
bagi aliran ini dianggap hanya merupakan bayang-bayang, sifatnya sementara, dan
selalu menipu. Eksistensi benda fisik akan rusak dan tidak akan pernah membawa
orang pada kebenaran sejati.
Dalam perkembangannya, aliran ini ditemui
dalam ajaran Plato (428-348 SM) dengan teori idenya. Menurutnya, tiap-tiap yang
ada di dalam mesti ada idenya yaitu konsep universal dari tiap sesuatu. Alam
nyata yang menempati ruangan ini hanyalah berupa bayangan saja dari alam ide
itu. Jadi, idelah yang menjadi hakikat sesuatu, menjadi dasar wujud
sesuatu.
Aliran Dualisme
Aliran ini berpendapat bahwa benda
terdiri dari dua macam hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan
hakikat rohani, benda dan roh, jasad dan spirit. Kedua macam hakikat itu masing-masing
bebas dan berdiri sendiri, sama-sama azali dan abadi. Hubungan keduanya
menciptakan kehidupan dalam alam ini.
Aliran Pluralisme
Aliran ini berpandangan bahwa
segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan
dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata. Pluralisme dalam
Dictionary of Philosophy and Religion dikatakan sebagai paham yang menyatakan
bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua
entitas.
Aliran Nihilisme
Nihilisme berasal dari bahasa Latin
yang berarti nothing atau tidak ada. Sebuah doktrin yang tidak mengakui
validitas alternatif yang positif.
Agnotisisme
Paham
ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda. Baik
hakikat materi maupun ruhani. Kata Agnoticisme berasal dari bahasa Greek yaitu
Agnostos yang berarti unknown A artinya not Gno artinya know.
5)
MANFAAT
MEMPELAJARI ONTOLOGI
Ontologi
yang merupakan salah satu kajian filsafat ilmu mempunyai beberapa manfaat, di
antaranya sebagai berikut:
1.
Membantu untuk mengembangkan dan mengkritisi berbagai bangunan sistem pemikiran
yang ada.
2.
Membantu memecahkan masalah pola relasi antar berbagai eksisten dan eksistensi.
3. Bisa mengeksplorasi secara mendalam dan jauh pada berbagai ranah keilmuan
maupun masalah, baik itu sains hingga etika.
PENUTUP
Dari penjelasan tersebut, penyusun
dapat menyimpulkan bahwa ontologi merupakan salah satu diantara lapangan
penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Ontologi berasal dari bahasa Yunani
yang berarti teori tentang keberadaan sebagai keberadaan. Pada dasarnya,
ontologi membicarakan tentang hakikat dari sutu benda/sesuatu. Hakikat disini
berarti kenyataan yang sebenarnya (bukan kenyataan yang sementara, menipu, dan
berubah). Misalnya, pada model pemerintahan demokratis yang pada umumnya
menjunjung tinggi pendapat rakyat, ditemui tindakan sewenang-wenang dan tidak
menghargai pendapat rakyat. Keadaan yang seperti inilah yang dinamakan keadaan
sementara dan bukan hakiki. Justru yang hakiki adalah model pemerintahan yang
demokratis tersebut.
Dalam ontologi ditemukan
pandangan-pandangan pokok pemikiran, yaitu monoisme, dualisme, pluralisme,
nihilisme, dan agnostisisme. Monoisme adalah paham yang menganggap bahwa
hakikat asalnya sesuatu itu hanyalah satu. Asal sesuatu itu bisa berupa materi
(air, udara) maupun ruhani (spirit, ruh). Dualisme adalah aliran yang
berpendapat bahwa asal benda terdiri dari dua hakikat (hakikat materi dan
ruhani, hakikat benda dan ruh, hakikat jasad dan spirit). Pluralisme adalah
paham yang mengatakan bahwa segala hal merupakan kenyataan. Nihilisme adalah
paham yang tidak mengakui validitas alternatif yang positif. Dan agnostisisme
adalah paham yang mengingkari terhadap kemampuan manusia dalam mengetahui
hakikat benda.
Jadi, dapat disimpulakan bahwa
ontologi meliputi hakikat kebenaran dan kenyataan yang sesuai dengan
pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari perspektif filsafat tentang apa
dan bagaimana yang “ada” itu. Adapun monoisme, dualisme, pluralisme, nihilisme,
dan agnostisisme dengan berbagai nuansanya, merupakan paham ontologi yang pada
akhirnya menentukan pendapat dan kenyakinan kita masing-masing tentang apa dan
bagaimana yang “ada” itu.
DAFTAR PUSTAKA
Achamadi, Asmoro.2012. Filsafat Umum. Jakarta: PT RAJA GRAFINDO PERSADA.
Kusumaningrum,
Annisa .2013. Dimensi Kajian
Filsafat Ilmu. Jakarta : Universitas
Indonesia.
Surasumantri, Jujun, S. 1999. Ilmu
Dalam Perspektif. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.
___________________ 2005 Filsafat
Ilmu : Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : Sinar
Harapan.
Komentar
Posting Komentar