PEREKONOMIAN INDONESIA SEBAGAI NEGARA BEKEMBANG

 

 

PEREKONOMIAN INDONESIA

SEBAGAI NEGARA BEKEMBANG

Pudja Pilorazo Shatilla

1410862020

Ilmu Komunikasi, Unversitas Andalas

 

Abstrak

 

Perekonomian merupakan suatu hal yang sangat penting bsgi kehidupan bernegara. Indonesia merupakan suatu negara yang masih berkembang yang masih memiliki standar hidup yang rendah, produktifitas yang rendah dan tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi. Maka dari itu adanya hal yang harus dicapai dalam suatu perekonomian seperti hasil yang melimpah, pertumbuhan yang baik, stabilitas, kemanan dan efisiensi. Dari pembahasan ini penulis ingin melihat bagaimana perekonomian Inodnesia sebagai negara berkembang yang ingin mencapai suatu perekonomian yang baik di lihat dari indikator perkembangan ekonomi yait inflasi, nilai ekpor dan impor, upah buruh, pariwisata, utang luar negri dan pendapatan nasional.

Keyword: ekonomi, negara berkembang

 

I.                   Pendahuluan

 

1.1 Latar Belakang

Manusia adalah makhluk yang memerlukan makanan untuk menumbuhkan dan memelihara tubuhnya, begitu juga sebuah negara ingin selalu tumbuh dan membentuk suatu perekonomian yang baik. Bagi Indonesia yang merupakan negara berkembang, perekonomian sejalan dengan kemajuan zaman.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun masalah yang ingin di bahas adalah

1.2.1 Apa yang disebut negara berkembang?

1.2.2 Apa saja hasil yang akan di capai dalam perekonomian di suatu negara?

1.2.3 Bagaimana kondisi ekonomi Indonesia?

1.3. Tujuan

Tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut

            1.3.1 Mengetahui ciri-ciri negara berkembang

            1.3.2 Mengetahui hasil yang akan dicapai dalam perekonomian suatu negara

            1.3.3 Mengetahui kondisi ekonomi Indonesia

 

 

II.                Pembahasan

 

2.1  Negara Berkembang

Menurut Michael O. Todaro dalam bukunya yang berjudul Pengembangan Ekonomi Dunia ke Tiga, karakteristik umum negara-negara berkembang adalah

a.       Standar hidup yang rendah

Sebutan rendah bukan hanya pada pengertian global, yakni apabila dibandingkan dengan standar hidup orang di negar-negara kaya, namun juga di dalam pengertian domestik, yakni bila dibandingkan dengan gaya hidup golongan elit di negara mereka sendiri. Standar hidup yang rendah tersebut memanifiestasikan secara kuantitatif dal membentuk jumlah pendapatan uang yang sangat sedikit (kemiskinan), perumahan yang kurang layak, kesehatan yang buruk, bekal pendidikan yang minim atau bahkan tidak ada sama sekali, angka kematian bayi yang  tinggi, harapan hidup yang relatif sangat singkat, dan peluang mendapatkan pekerjaan yang rendah.

b.      Produktifitas yang Rendah 

Disamping standar hidup yang rendah, negara-negara berkembang juga menghadapi masalah rendahnya tingkat produktifitas tenaga kerja (labor productivity). Produktifitas tenaga kerja di hampir semua negara-negara berkembang masih rendah dibandingkan dengan negara-negara maju.

c.       Tingkat Pertumbuhan Penduduk dan Beban Ketergantungan yang Terlampau Tinggi

Pada tahun 1998, total penduduk dunia telah mencapai sekitar 5,9 miliar jutadan lebih dari empat perlima dari jumlah tersebut hidup di negara-negara Dunia Ketiga. Sedangkan yang menghuni negara-negara maju hanya sekita seperlimanya. Diantar kedua kelompok negara tersebut terdapat perbedaan tingkat kelahiran dan tingkat kematian yang sangat mencolok.

Di negara-negara berkembang, tidak hanya dibebani oleh tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi, tetapi juga harus menanggung beban ketergantungan yang lebih berat daripada negara-negara kaya. Situasi dan kondisi yang menjadikan laju pertambahan penduduk sebagai penghambat pembangunan ekonomi.

d.      Tingkat Pengangguran Penuh dan Terselubung yang Terlalu Tinggi dan Terus Melonjak

Salah satu akibat utama sekaligus faktor penyebab rendahnya taraf hidup di negara-negara berkembang adalah terbatasnya penyerapan sumber daya manusia (employement). Jika dbandingkan dengan negara-negara maju, pemanfaatan sumber daya  yagn dilakukan oleh negara-negar berkembang relatif sangat rendah.

e.       Ketergantungan terhadap Produksi Pertanian dan Ekspor Barang-Barang Primer

Sebagian besar penduduk di negara-negara berkembang hidup dan bekerja di daerah pedesaan. Lebih dari 65 persen jumlah penduduk negara-negara berkembang tinggal secara permanen, bahkan turun temurun, dipedesaan; sementara penduduk di negara-negara maju yang tinggal di desa-desa kurang dari 27 persen.

            Pada umunya, perekonomian negara-negar berkembang lebih banyak berorientasi ke produksi barang primer (produk-produk pertanian, bahan-bakar , hasil hutan dan bahan-bahan mentah) datipada ke barang sekunder (manufaktur) dan barang tersier (jasa). Komoditi-komoditi primer tersebut merupakan andlan ekpor yang utama ke negara-negala lain ( dari negara maju ke negara berkembang).

f.       Pasar yang Tidak Sempurna dan Informasi yang Tidak Memadai

Di banyak negara berkembang, perangkat hukum/legal, budaya dan institusionalnya, kalaupun ada masih sangata lemah guna mendukung beroperasinya mekanisme pasar secara efektif dan efisien.

Sistem infrastruktur juga sangat penting. Tanpa adanya jalan-jalan raya, sistem telekomunikasi, litrik atau sistem perbankan yang kuat serta jaminannya, pasar kredit forma yang melakukan seleksi dan alokasi dana-dana pinjaman berdasarkan profitabilitas ekonomi relatif dan menerapkan aturan pembayaran kembali, serta informasi pasar yang cukup bagi konsumen maupun produsen mengenai harga, kuantitas, dan kualitas produk.

g.       Dominasi, Keuntungan, dan Kerapuhan dalam Hubungan Internasional

Pada negara-negara berkembang pada umumnya, salah satu faktor utama yang mengkibatkan rendahnya standar hidup masyarakat mereka, serta kian mencoloknya ketimpangan distribusi pendapatan internasional adalah distribusi kekuatan politik dan ekonomi yangsangat tidak merata di antara negara-negara kaya dan miskin.

Di samping itu, masih ada aspek lain dalam proses transfer internasional yang turut mempersulit usaha pembangunan negara miskin. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah munculnya pengaruh standar sosial dan ekonomi negara-negara maju terhadap skala gaji, gaya kehidupan elit, dan sikap individualistis. 

 

 

2.2  Hasil yang di Capai dalam Perekonomian Suatu Negara

Manusia selalu ingin membandingkan untuk hasil yang terbaik. Dengan mempertimbangkan semua aspek yang akan dicapai. Menurut Grossmen dalam bukunya Sistem-Sistem Ekonomi, kita tidak dibenarkan membandingkan suatu perekonomian aktual dengan suatu model ideal dar sistem yang berbeda. Dia menyebutkan bahwa hasil yang di capai dalam perekonomiaan suatu negara adalah

a.       Melimpah

Hal yang perlu diketahui adalah beberapa banyak mereka menghasilkan atau menyediakan barang dan jasa, baik secara keseluruhan maupun per kapita. Di sini kita memiliki serangkaian alat pengukurnya seperti produk nasiona kotor atau konsumsi. Kriteria tertentu yang kita gunalan akan tergantung pada pertanyaan yang jawabannya, ingin kita cari kecuali kekurangann data statistik .

Lebih lanjut, implikasi mengenai sistem ekonomi tidak selalu terlihat jelas. Bila karena produksi per kapita suatu negeri hanya mencapai setengah dari produksi perkapita negara lain, ini tak berarti  bahwa sistem ekonomi jelek. Produksi perkapita suatu negeri tergantung tidak hanya wpada lembaga perekonomiannya, tetapi juga pad ajumlah besar kondisi sejarah, politik, kebudayaan, lingkungan alam, fisik dan penduduk. Larena penduduk per kapita Amerika jauh lebih tinggi daripada Rusia, tidak dengan sendirinya membuktikan keunggulan “kapitalisme” terhadap “sosialisme”.

b.      Pertumbuhan

Dewasa ini jauh berbeda dengan sebelumnya yang menganggap pertumbuhan sebagai suatu perekonomian yaang berhasil: memang, di mata banyak penduduk dunia ini merupakan hal yang paling penting. Dalam sekitar seratus negri yang kurang berkembang, pembangun ekonomi, terutama bertrati pertmbuhan produksi, sering merupakan tujuan nasional yang utama. Ia sering sering merupakan obsessi bagi kita yang telah menikmati tingkat hidup yang memadai. Dalam banyak negeri ini keberhasilan peerintah dan lembaganya cedrung diukur dalam bentuk pertumbuhan yang mereka hasilkan. Sementara sistem alternatif berlomba untuk mempengaruhinya (kapatalisame, demokrasi, sosialisme, dan kediktarotran sering diukur dengan ukuran yang sama.

c.       Stabilitas

Stabilitas ekonomi biasanya menunjukkan usaha untuk menghindarkaan dua jenis fenoomena yang slaing berkaitan dengan erat. Fluktuasi preiodik, kesempatan kerja dan output dalma seluruh perekonomian atau sebagian sekotor ekonomi (fluktuasi usaha) dan (inflasi atau deflasi. Pergerakan harga ke atas atau ke bawah yagn cukup berarti pada umumnya tumbuh dari tahun ke tahun.

Inflasi menguntungkan para debitur dan merugikan orang yagn berpiutang. Inflasi mengubah kemakmuran relatif berbagai kelas ekonomi, deflasi juga tak kuran jeleknya. Resesi dan depresesi  mengurangi produk nasional dan pendapatan nyata masyarakatsecara keseluruhan dan melemparkan orang dari pekerjaanya. Jadi dengan demikian menyebabkan tragedi dan beban sosial. Kemungkinan suatu ekonomi untuk tidak menjadi stabil jelaskah sebagian besar merupakan fungsi dari lembaga, dan berbagai sistem ekonomi yng berbeda.

d.      Keamanan

Di beberbagai negara yang lebih berkembang, jaminan ekonomi rumah tangga sekarang tidak lagi tergantung pada belas kasihan yang tidak dpaat dipercaya, seperti halnya seperti eberapa waktu belakangan ini, sejak dulu kala. Dan masih seperti itu keadaannya dalam kebanyakan negara y ang kurang berkembang. Tapi manusia modern in telah meperoleh jaminan ini dengan harga yagn tak dapat di hitung besarnya dengan ketergantungan yang lebih besar pada masyrakat keseluruhan. Ketidak pastiannya kini malah timbul dari tak dapat diramalkannya fenomena sosial.

Banyak pendapat umum dala negara maju modern (dan banyak juga di negara miskin) sekarang yang menyetujui bahwa perorangan tidak seharusnya menanggung beban kekuatan sosial yang tak menguntungkan dan kekuasaan alam yang tak dpaat dikendalikan. Adalah pada penekanan pada perlindunga perorangna terhadapa berbagai resiko ini yang merupakan suatu perbedaan utama antara keadaan antara abad kedua puluh dengan bad sebelumnya. Negeri yang memberikan jaminan yang luas seprti in kepada warganya, biasanya disebut negara kemakmuran (welfare states), walaupun istilah ini digunakan dengan agak longgar. Mengenai jaminan perorangan sistem ekonomi tidak sama, pertama, dalam luasnya, ia merupakan negar kesejahteraan, dan kedua, smapai berapa jauh merkea berusaha menghalangi sebab-sebab ketidak pastian sosial, seperti fluktuasi usaha.

e.       Efisiensi

Ahli ekonomi mengenal tiga jenis efisiensi. Pertama adalah yang dinamakan efisiensi teknis cara yang paling efektif dalam menggunakan sumber yagn langka (tenaga kerja, bahan baku, mesin dan lain sebagainya) tau sejumlah sumber dal suatu pekerjaan tertentu.

Ada dua jenis efisiensi ekonomi yaitu efisiensi statis dan dinamis. Efisiensi ekonomi yang statis meliputi efisiensi teknis yagn mencerminkan alokasi sumber-sumber yang ada dalam rangkaian waktu tertentu. Efisiensi dinamis, pada pihak lain, menghubungkan pertumbuhan ekonomi dengan kenaikan sumber yang seharusnya menyebabkan pertumbuhan ini. Jadi walaupun dua perekonomian mungkin telah meningkatkan persediaan modal dan tenaga kerja mereka dengan persentase yang sama, tapi tingkat pertumbuhna nasional dalm kedua kasus ini mungkin sangat berlainan.

f.       Pemerataan dan Keadilan ; Persamaan

Jarang orang yang tidak memilki pendapat mengenai batasan tentang keadilan, wajar atau tidak dalam pembagian pendapatan, kekayaan, kekuasaan, dan kesemptan di antara berbagai indifidu dan kelompok dalam masyarakat. Kita juga cendrung menilai sistem ekonomi danpolitik dengan kriteria keadilan dna persamaan. Pada dasarnya setiap “isme” mengnaggap beberapa standar keadilan sosial (seperti juga setiap isme mepunyai pandangan mengenai hakikat manusia), dan setiap reformasi dan refolusi, atau perlawanan terhadapnya.

Suatu persaman yang penting adalah persamaan kesempatan; yaitu suatu kesempatan yang sama bagi setiap orang untuk menggunakan kesanggupannya dalam bidang ekonomi. Ini tidak hanya berarti adanya diskriminasi sosial atas dasar mana individu tidak memiliki kekuasaan, tetapi juga suatu kebijaksanaan sosial yang positif untuk memberikan jalan yang sama terhadap fasilitas pengembangan kesanggupan (pendidikan dan lain sebagainya).

g.       Kemerdekaan Ekonomi

Suatu pemikin penting yang kadang-kadang dianggap sebagai  segi kemerdekaan perusahaan untuk menciptakan lembaga perkonomian baru sebagai reaksi terhadap kebuthan baru dan bebas dari inisiatif harga. Contoh yang paling menarik adalah uang yang berasal dari masa lampau adaah kartu kredit, penerbangan carter ke seberangl autan dan lembag penelitian non profit yang bebas. Aspek kemerdekaan berusaha ini sangat erat hubungannya dengan sifat “mengatur diri sendiri” usaha sistem ekonomi.

Kemerdekaan memiih bagi rumah tangga dan kemerdekaan berusaha mungkin dinilai sebagaimana adanya. Amerika, terutama sejalan dengan trandisinya yang indifidualistis dan liberal ( atau rumahtangga), dan perusahaan bebas untuk membelanjakan uangnya sendiri sesuai dengna keinginan apa yang meereka inginkan, selama tidak merugikan kepentingan dan kemakmuran rakyat.

h.      Kedaulatan ekonomi

Kedaulatan konsumen jang dikcaukan dengan kemerdekaan konsumenuntuk memilih kedaulatan mengacu kepada masalah keputusan terakhir; pilihan konsumen menunjuk kepada cara yang digunakan dalam menstribusikan barang konsumsi yang dihasilkan untuk keperluan rumah tangga. Pro kedaulatan konsumen (1) produksi ditunjukkan untuk masyarakat, untuk konsumen, dan oleh karena keinginan dan kesukaan mereka. (2) Mengabaikan kedaulatan konsumen dapat membuka peluanguntuk otoriterisme, terutama kediktatoran. Penentang kedaulatan konsumen berargumentasi (1) konsumen sering tidak tahu apa yang paling baik bagi mereka karena merkea kekurangna informasi teknik dan ilmiah yang diperlukan (2) selera kesukaan konsumen tidak bebas tapi selalu dipengaruhi oleh kesukaan dan mode (3) juga permintaan konsumen tidak spontan, karena permintaan konsumen sangat dipengaruhi oleh iklan dan tekanan lain dari produsen (4) konsumen rata-rata pada umumnya tidak menghargai masa depan secukupnya dan tidak menghemat untuk generasi berikutnya (5) permintaan konsumen sangat tergantung pada distribusi pendapatan dan kekayaan.

i.        Perlidungan Lingkungan

Dalam beberapa tahun saja masyarakat umum di Amerika Serikat dan banyak lagi di negara lain telah menjadi sangat sadar akan perubahan lingkungan manusia sejalan dengan kemajuan perekonomian. Semakin banyak kegiatan ekonomi dan lembaga-lembaga ekonomi dinilai dari sudut perlindungan lingkungan, yang menyebabkan pencemaran udara dan airserta mengotori dan merusak pemandangan.

2.3  Kondisi Ekonomi Indonesia

Ai Siti Farida dalam bukunya Sistem Ekonomi Indonesia,  menganggap bahwa Indonesia terlalu meniru perekonomian asing. Ia menyebutkan bahwa Indonesia dinilai terlalu meniru sistem perekonomian di luar negeri. Padahal, sistem tersebut belum  tepat diaplikasikan di dalam negeri. Tidak dapat diaplikasikannya sistem pemasaran yang ada di luar negeri karena faktor perbedaan. Di luar negeri, kondisi masyarakat, ekonomi, dan politik cendrung stabil. Segala hal juga dapat diprediksi dan sitem hukum yang ada dapat diandalkan. Kondisi tersebut belum terjadi di negara berkembang seperti Indonesia.

Indonesia baru akan membangun masyarakat hukum, sementara di Amerika pembangunan masyarakat hukum sudah berjalan lama. Di Amerika hak-hak individu dan kebbebbasannya telah dijamin. Sementara kita harus menciptakan suatu siste sendiri dengan memberikan edukasi penyadaran terhadap masyarakat. Pembelajaran dpaat dilakukan dengan sosialisais melalui berbagai media dan hal yang menarik bagi masyarakat.

Indonesia seharusnya sudah belajar pada krisis ekonomi dan moneter yang mengguncang dunia pada tahun 1998. Belajar dari kasus tersebut, sudah saatnya bagi Indonesia untuk memberi perhatian utama pada bidang pertanian dan perkebunan, agar bisa keluar dari krisis pangan yang kini mengancam dunia.

Kemudian, lemahnya koperasi dan usaha kecil menengah dalam memasarkan produk, menjadikan Indonesia tertinggal oleh negara-negara lain. Contohnya, pada saat gula pasir naik, petani gula merah malah bingung memasarkan produknya. Padahal jika semua pihak saling membantu, gula merah dapat menjadi koomditas pengganti pula pasir karena biaya pembuatnya yang lebih murah dan banyak tersedia di seluruh Indonesia.  

Akibat atau dampak dari krisis ekonomi atau krimon yang terjadi pada tahun 1998 masih kita rasakan sampai saat ini. Akan tetapi kalau kita lihat dari tahun ke tahun, kecendrungan perekonomian kita semakin membaik. Salah satu indikatornya dapat dilihatdari nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Semakin kuat nilai tukar rupiah, semakin baik perekonomian kita. Berikut indikator perkembangan perekonomian Indonesia.

Semakin kuat nilai tukar rupiah, semakin baik perekonomian kita. Berikut indikator perkembangan perekonomian Indonesia.

2.3.1        Inflasi

 

Tabel 3.1 Indeks Harga Konsumen dan Inflasi Bulanan Indonesia

2005, 2006, 2007, Jan-Mei 2008 ( 2002=100 ), Juni 2008 - Desember 2013 ( 2007 = 100 ), Januari 2014 -Mei 2015 (2012=100)

Bulan

2015

 

 

 

 

 

 

 

 

IHK

Inflasi

 

 

 

 

 

 

 

 

Januari

118,71

-0,24

 

 

 

 

 

 

 

 

Februari

118,28

-0,36

 

 

 

 

 

 

 

 

Maret

118,48

0,17

 

 

 

 

 

 

 

 

April

118,91

0,36

 

 

 

 

 

 

 

 

Mei

119,50

0,50

 

 

 

 

 

 

 

 

Juni

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Juli

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Agustus

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

September

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oktober

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

November

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Desember

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tingkat Inflasi

 

0,42

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bulan

2010

2011

2012

2013

20142)

IHK

Inflasi

IHK

Inflasi

IHK

Inflasi

IHK

Inflasi

IHK

Inflasi

Januari

118,01

0,84

126,29

0,89

130,9

0,76

136,88

1,03

110,992)

1,07

Februari

118,36

0,3

126,46

0,13

130,96

0,05

137,91

0,75

111,28

0,26

Maret

118,19

-0,14

126,05

-0,32

131,05

0,07

138,78

0,63

111,37

0,08

April

118,37

0,15

125,66

-0,31

131,32

0,21

138,64

-0,1

111,35

-0,02

Mei

118,71

0,29

125,81

0,12

131,41

0,07

138,6

-0,03

111,53

0,16

Juni

119,86

0,97

126,5

0,55

132,23

0,62

140,03

1,03

112,01

0,43

Juli

121,74

1,57

127,35

0,67

133,16

0,7

144,63

3,29

113,05

0,93

Agustus

122,67

0,76

128,54

0,93

134,43

0,95

146,25

1,12

113,58

0,47

September

123,21

0,44

128,89

0,27

134,45

0,01

145,74

-0,35

113,89

0,27

Oktober

123,29

0,06

128,74

-0,12

134,67

0,16

145,87

0,09

114,42

0,47

November

124,03

0,6

129,18

0,34

134,76

0,07

146,04

0,12

116,14

1,5

Desember

125,17

0,92

129,91

0,57

135,49

0,54

146,84

0,55

119,00

2,46

Tingkat Inflasi

 

6,96

 

3,79

 

4,3

 

8,38

 

8,36

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bulan

2005

2006

2007

2008

2009

IHK

Inflasi

IHK

Inflasi

IHK

Inflasi

IHK

Inflasi

IHK

Inflasi

Januari

118,53

1,43

138,72

1,36

147,41

1,04

158,26

1,77

113,78

-0,07

Februari

118,33

-0,17

139,53

0,58

148,32

0,62

159,29

0,65

114,02

0,21

Maret

120,59

1,91

139,57

0,03

148,67

0,24

160,81

0,95

114,27

0,22

April

121,00

0,34

139,64

0,05

148,43

-0,16

161,73

0,57

113,92

-0,31

Mei

121,25

0,21

140,16

0,37

148,58

0,1

164,01

1,41

113,97

0,04

Juni

121,86

0,5

140,79

0,45

148,92

0,23

110,08*)

2,46*)

114,1

0,11

Juli

122,81

0,78

141,42

0,45

149,99

0,72

111,59

1,37

114,61

0,45

Agustus

123,48

0,55

141,88

0,33

151,11

0,75

112,16

0,51

115,25

0,56

September

124,33

0,69

142,42

0,38

152,32

0,8

113,25

0,97

116,46

1,05

Oktober

135,15

8,7

143,65

0,86

153,53

0,79

113,76

0,45

116,68

0,19

November

136,92

1,31

144,14

0,34

153,81

0,18

113,9

0,12

116,65

-0,03

Desember

136,86

-0,04

145,89

1,21

155,5

1,1

113,86

-0,04

117,03

0,33

Tingkat Inflasi

 

17,11

 

6,6

 

6,59

 

11,06

 

2,78

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*) Sejak Juni 2008, IHK didasarkan pada pola konsumsi pada survei biaya hidup di 66 kota tahun 2007 (2007=100)

2) Sejak Januari 2014, IHK didasarkan pada pola konsumsi pada survei biaya hidup di 82 kota tahun 2012 (2012=100)

Sumber : Data Badan Pusat Statistik

Pada bulan Novermber 2008 terjadi inflasi 0.12% dengan IHK sebesar 113,9.  Jika dibandingkan dengan bulan November tahun 2013 inflasi tetap sama sebesar 0.12% dengan IHK 146,04. Dari tabel 3.1 hingga 3.3 terlihat bahwa laju inflasi Indonesia naik turun.

 

2.3.2        Ekspor dan Impor

 

Tabel 3.2 Nilai Ekspor dan Impor (juta US$) 1998-2012

 

 

 

 

 

[Diolah dari dokumen kepabeanan Ditjen Bea dan Cukai (PEB dan PIB)]

 

 

 

 

 

Tahun

Nonmigas

Migas

Jumlah

 

 

 

 

 

Ekspor

Impor

Ekspor

Impor

Ekspor

Impor

 

 

 

 

 

1998

40975,5

24683,2

7872,1

2653,7

48847,6

27336,9

 

 

 

 

 

1999

38873,2

20322,2

9792,2

3681,1

48665,4

24003,3

 

 

 

 

 

2000

47757,4

27495,3

14366,6

6019,5

62124

33514,8

 

 

 

 

 

2001

43684,6

25490,3

12636,3

5471,8

56320,9

30962,1

 

 

 

 

 

2002

45046,1

24763,1

12112,7

6525,8

57158,8

31288,9

 

 

 

 

 

2003

47406,8

24939,8

13651,4

7610,9

61058,2

32550,7

 

 

 

 

 

2004

55939,3

34792,5

15645,3

11732

71584,6

46524,5

 

 

 

 

 

2005

66428,4

40243,2

19231,6

17457,7

85660

57700,9

 

 

 

 

 

2006

79589,1

42102,6

21209,5

18962,9

100798,6

61065,5

 

 

 

 

 

2007

92012,3

52540,6

22088,6

21932,8

114100,9

74473,4

 

 

 

 

 

2008

107894,2

98644,4

29126,3

30552,9

137020,4

129197,3

 

 

 

 

 

2009

97491,7

77848,5

19018,3

18980,7

116510

96829,2

 

 

 

 

 

2010

129739,5

108250,6

28039,6

27412,7

157779,1

135663,3

 

 

 

 

 

2011

162019,6

136734,1

41477

40701,5

203496,6

177435,6

 

 

 

 

 

2012

153043

149125,3

36977,3

42564,2

190020,3

191689,5

 

 

 

 

 

Sumber : Data Badan Pusat Statistik

            Berdasarkan tabel, ekspor dan impor Indonesia cendrung naik, meskipun pada tahun 1998 ke tahun 1999 jumlah nilai impor dan ekspor Indonesia mengalami penurunan. Penurunan yang sangat drastis di terlihat pada tahun 2008 ke tahun 2009. Pada tahun tersebut nilai jumlah ekspor dan impor Indonesa mengalami penurunan yang sangat signifikan yakni dengan ekspor 137020,4 ke 116510 dan impor 129197,3 ke 96829,2. Selain tahun 2009, penurunan juga terlihat pada tahun 2011 ke tahun 2012. Akan tetapi, dari tahun 2009 ke tahun 2011 nilai jumlah impor migas maupun non-migas mengalami kenaikan

2.3.3        Nilai tukar petani

Tabel 3.3 Indeks Harga yang Diterima Petani (It), Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib), dan Nilai Tukar Petani (NTP) Menurut Periode Bulan (2007=100), 2008-2013

Bulan

It

Ib

Indeks Harga yang Dibayar Petani

NTP

Indeks Konsumsi Rumah Tangga

Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal

 

 

 

 

 

 

Rata-Rata  2008

112,35

112,19

112,82

110,2

100,16

Januari

106,1

105,39

105,93

103,81

100,69

Februari

107,04

106,44

107,02

104,73

100,59

Maret

106,17

107,5

108,18

105,45

98,79

April

107,12

108,18

108,79

106,38

99,05

Mei

109,61

109,45

110,11

107,54

100,17

Juni

113,52

112,8

113,26

111,34

100,64

Juli

116,51

114,56

115,18

112,52

101,71

Agustus

117,49

115,18

115,82

113,07

102,00

September

118,02

116,05

116,79

113,62

101,69

Oktober

115,74

116,68

117,47

114,07

99,2

November

114,86

116,77

117,43

114,65

98,36

Desember

116,06

117,25

117,93

115,18

98,99

 

 

 

 

 

 

Rata-Rata 2009

119,72

119,89

120,92

116,97

99,85

Januari

115,69

117,69

118,46

115,64

98,3

Februari

117,15

118,56

119,56

115,78

98,82

Maret

117,46

118,91

119,96

115,98

98,78

April

117,8

118,68

119,58

116,23

99,26

Mei

118,07

118,78

119,61

116,55

99,41

Juni

118,66

119,18

120,04

116,85

99,56

Juli

119,33

119,54

120,43

117,13

99,82

Agustus

120,51

120,22

121,23

117,41

100,24

September

122,53

121,43

122,72

117,67

100,9

Oktober

122,81

121,85

123,21

117,81

100,79

November

123,05

121,67

122,87

118,17

101,13

Desember

123,59

122,12

123,39

118,4

101,2

 

 

 

 

 

 

Rata-Rata 2010

128,62

126,37

128,26

120,78

101,77

Januari

124,73

123,26

124,77

118,76

101,19

Februari

125,27

123,92

125,51

119,17

101,09

Maret

125,33

123,84

125,35

119,40

101,20

April

125,56

124,13

125,57

119,98

101,15

Mei

125,73

124,28

125,68

120,29

101,16

Juni

126,76

125,02

126,57

120,58

101,39

Juli

129,24

126,99

129,02

120,99

101,77

Agustus

130,25

127,93

130,12

121,42

101,82

September

131,21

128,41

130,65

121,74

102,19

Oktober

131,91

128,55

130,76

122,02

102,61

November

133,16

129,42

131,79

122,38

102,89

Desember

134,27

130,67

133,33

122,68

102,75

 

 

 

 

 

 

Rata-Rata 2011

138,90

132,81

135,62

124,47

104,58

Januari

135,72

131,76

134,64

123,07

103,01

Februari

136,36

131,96

134,83

123,36

103,33

Maret

136,34

131,95

134,75

123,59

103,32

April

136,53

131,40

133,95

123,87

103,91

Mei

137,38

131,46

133,96

124,17

104,50

Juni

138,25

131,92

134,50

124,35

104,79

Juli

139,09

132,63

135,34

124,61

104,87

Agustus

140,27

133,45

136,34

124,86

105,11

September

140,71

133,80

136,74

125,06

105,17

Oktober

141,37

133,99

136,91

125,29

105,51

November

142,05

134,47

137,47

125,56

105,64

Desember

142,67

134,91

137,97

125,82

105,75

 

 

 

 

 

 

Rata-Rata 2012

145,75

138,49

142,05

128,00

105,24

Januari

143,57

135,78

138,99

126,27

105,73

Februari

143,31

136,36

139,63

126,69

105,10

Maret

143,00

136,61

139,83

127,14

104,68

April

143,45

137,00

140,25

127,46

104,71

Mei

143,93

137,38

140,69

127,69

104,77

Juni

144,82

138,08

141,54

127,91

104,88

Juli

145,86

138,97

142,63

128,15

104,96

Agustus

147,26

139,90

143,77

128,44

105,26

September

147,58

140,00

143,85

128,64

105,41

Oktober

148,29

140,22

144,05

128,88

105,76

November

148,57

140,52

144,37

129,22

105,72

Desember

149,34

141,06

144,98

129,52

105,87

 

Rata-Rata 2013(1)

154,21

146,99

151,92

132,16

104,91

Januari

150,60

142,52

146,73

130,04

105,67

Februari

150,78

143,34

147,70

130,38

105,19

Maret

150,81

144,27

148,82

130,69

104,53

April

150,86

144,30

148,79

130,95

104,55

Mei

151,44

144,29

148,75

131,08

104,95

Juni

152,67

145,01

149,62

131,27

105,28

Juli

156,14

149,31

154,54

133,10

104,58

Agustus

157,04

150,54

156,13

133,51

104,32

September

157,61

150,73

156,26

133,91

104,56

Oktober

159,19

151,18

156,74

134,24

105,30

November

159,22

151,43

156,96

134,61

105,15

Desember (2)

110,55

108,43

109,95

105,43

101,96

[Diolah dari Hasil Survei Harga Perdesaan, BPS]

Catatan/Note:

(1)   Rata-rata 2013 mencakup Januari–November 2013 dengan tahun dasar 2007=100/The average of 2013 covers January–November 2013 

with base year 2007=100

(2)   Mulai Desember 2013, penghitungan NTP menggunakan tahun dasar 2012=100/Since December 2013, NTP calculation has used base year

2012=100

            Pada bulan Oktober 2008, nilai tukar petani rata-rata dari tahun ke tahun terlihat stabil. Terlihat dari data tahun ke tahun pada NTP nasional bulan Oktober 2008 sebesar 99.2 berarti daya beli petani lebih rendah daripada daya beli petani tahun dasar. Tahun dasar yang di gunakan adalah tahun 2007. Penurunan NTP disebabkan terjadinya penurunan harga hasil produksi pertanian, sedangkan harga barang dan jasa yang di konsumsi oleh rumah tangga ataupun untuk keperluan produksi pertanian naik.

 

 

 

2.3.4        Upah buruh

Tabel  3.4 Upah Nominal dan Riil Buruh Tani di Indonesia (Rupiah),

2008 – 2013 (2007=100)

Tahun dan Bulan

Buruh Tani (Harian)

 

Nominal

Riil

 

2013

 

 

 

 

 

Januari

41066

27987

 

 

Februari

41219

27908

 

 

Maret

41361

27792

 

 

April

41470

27871

 

 

Mei

41518

27912

 

 

Juni

41588

27795

 

 

Juli

41900

27096

 

 

Agustus

42041

26927

 

 

September

42217

27017

 

 

Oktober

42322

27002

 

 

November

42480

27065

 

 

Desember

43562

27646

 

2012

 

 

 

 

 

Januari

39727

28582

 

 

Februari

39854

28542

 

 

Maret

40002

28607

 

 

April

40082

28579

 

 

Mei

40166

28549

 

 

Juni

40257

28443

 

 

Juli

40330

28276

 

 

Agustus

40434

28124

 

 

September

40518

28167

 

 

Oktober

40613

28193

 

 

November

40761

28234

 

 

Desember

40877

28194

 

2011

 

 

 

 

 

Januari

38648

28705

 

 

Februari

38769

28755

 

 

Maret

38852

28832

 

 

April

38976

29098

 

 

Mei

39082

29175

 

 

Juni

39144

29104

 

 

Juli

39215

28975

 

 

Agustus

39287

28816

 

 

September

39345

28774

 

 

Oktober

39412

28787

 

 

November

39503

28736

 

 

Desember

39599

28701

 

2010

 

 

 

 

 

Januari

37426

29997

 

 

Februari

37637

29987

 

 

Maret

37721

30093

 

 

April

37844

30138

 

 

Mei

37897

30153

 

 

Juni

37946

29980

 

 

Juli

38069

29507

 

 

Agustus

38198

29356

 

 

September

38301

29315

 

 

Oktober

38382

29354

 

 

November

38494

29209

 

 

Desember

38577

28934

 

2009

 

 

 

 

 

Januari

36190

30551

 

 

Februari

36392

30438

 

 

Maret

36526

30449

 

 

April

36632

30633

 

 

Mei

36742

30718

 

 

Juni

36827

30680

 

 

Juli

36908

30747

 

 

Agustus

37002

30521

 

 

September

37065

30292

 

 

Oktober

37105

30115

 

 

November

37230

30301

 

 

Desember

37305

30233

 

2008

 

 

 

 

 

Januari

16106

2550

 

 

Februari

16277

2575

 

 

Maret

16407

2576

 

 

April

16658

2611

 

 

Mei

28986

26999

 

 

Juni

34908

30821

 

 

Juli

35225

30583

 

 

Agustus

35348

30520

 

 

September

35455

30358

 

 

Oktober

35544

30259

 

 

November

35704

30404

 

 

Desember

35842

30393

 

Catatan : Sebelum Mei 2008 Upah BuruhTani menggunakan Tahun Dasar 1996=100

 

 

 

Tabel 3.5 Upah Nominal dan Riil Buruh Tani di Indonesia (Rupiah), 2014-2015

 

(2012=100)

 

 

 

Tahun dan bulan

Buruh Tani (Harian)

 

Nominal

Riil

 

2014

 

 

 

 

 

Januari

43808

39383

 

 

Februari

43992

39372

 

 

Maret

44125

39416

 

 

April

44212

39514

 

 

Mei

44314

39516

 

 

Juni

44430

39330

 

 

Juli

44569

39134

 

 

Agustus

44717

39119

 

 

September

44833

39045

 

 

Oktober

44924

38955

 

 

November

45026

38466

 

 

Desember

45491

37839

 

2015

 

 

 

 

 

Januari

45846

38144

 

 

Februari

46059

38605

 

 

Maret

46180

38522

 

 

April

46306

38546

 

Sumber : data Badan Pusat Statistik

            Dilihat dari tabel 3.7 Upah Nominal Buruh Tani (harian) di Indonesia terus meningkat dari tahun 2014 ke tahun 2015.  Namun tidak sejalan dengan upah riil yang mengalami naik turun. Pada bulan Februari-Maret  2015 misalnya, upah riil buruh tani menurun sebesar 83 dan naik lagi pada bulan April 2015.

2.3.5        Pariwisata

Tabel 3.6  Jumlah Kedatangan Wisatawan ke Indonesia

Tahun

Bulan

Januari

Februari

Maret

April

Mei

Juni

Juli

Agustus

Septem-ber

Oktober

Novem-ber

Desemb-er

2008

 437 966

 465 449

 502 041

 459 129

 508 955

 529 064

 567 364

 599 506

 501 018

 529 391

 524 162

 610 452

2009

 473 165

 421 555

 511 314

 487 121

 521 735

 550 582

 593 415

 566 797

 493 799

 547 159

 531 669

 625 419

2010

 493 799

 523 135

 594 242

 555 915

 600 031

 613 422

 658 476

 586 530

 560 367

 594 654

 578 152

 644 221

2011

 548 821

 568 057

 598 068

 608 093

 600 191

 674 402

 745 451

 621 084

 650 071

 656 006

 654 948

 724 539

2012

 652 692

 592 502

 658 602

 626 100

 650 883

 695 531

 701 200

 634 194

 683 584

 688 341

 693 867

 766 966

2013

 614 328

 678 415

 725 316

 646 117

 700 708

 789 594

 717 784

 771 009

 770 878

 719 903

 807 422

 860 655

2014

 753 079

 702 666

 765 607

 726 332

 752 363

 851 475

 777 210

 826 821

 791 296

 808 767

 764 461

 915 334

2015

 723 039

 786 653

 789 596

 749 882

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : data Badan Pusat Statistik

Jika dilihat dari tahun ke tahun, jumlah wisatawan ke Indonesia cendrung meningkat walaupun dari bulan ke bulan selalu mengalami naik turun. Pada bulan Oktber 2014 wisatawan yang datang mencapai 808,7 ribu orang dan selalu  naik di bulan pada bulan Oktober sebelumnya. Data ini menunjukkan bahwa pada periode Januari-Oktober 2014 selalu mengalami peningkatan. Hal ini merupakan salah satu indikator bahwa masyarakat internasional memandang situasi Indonesia semakin aman.

2.3.6        Sumber Daya Manusia

Prof. Dr. Sudarwan Darnim dalam bukunya Ekonomi Sumber Daya Manusia berpendapat bahwa di tengah-tengah ketidakmampuan bersaing, banyak warga negara di negara-negara terbelakang dan sedang berkembang cendrung makin tamak padak sumberdaya alam yang jauh lebih mencukupi. Bahkan tambang dikuras sesuka hati, tanpa memerhatikan dimensi lingkungan. Hutan pun menjadi gundul akibat peladangan berpindah, sistem pengusahaan hutan yang tidak memerihatikan dimensi kelestarian lingkungan, ekspansi wilayah di pemukiman dan lahan sawah menjadi lokasi pembanguna pabrik. Bahkan, kawasan daerah aliran sungai (DAS), kawasan cagar alam, dan cagar budaya pun ikut terlibas. Bersamaan dengan itu, alokasi dana untuk investasi di bidang pengembangan SDM nyaris tidak pernah dinomorsatukan, hingga masyarakat di negara-negara terbelakang dan sedang berkembang ini sangant jauh dari keunggulan untuk bersaing.

Institusi pendidikan persekolahan, terutama institusi pendidikan tinggi tidak akan luput dari landaan globlaisasi ini, terutama dalam kapasitasnya menyiapkan SDM yang bermutu. Tahun-tahun terakhir ini, dinamika perubahan yang terjadi di universitas menunjukkan bahwa kita tengah memasuki agenda kerja yang lain  dari sebelumnya, berupa era baru perguruan tinggi laksana sebuah hall akademi yang tumbuh pada abad otomasi.

Kehadiran era global telah mendorong kelahiran kompetisi atas ide ide baru dan bersamaan dengan itu, praktik-praktik baru pun telah muncul dengan wajah kultur dan kemampuan persaingan secar ekonomi yang berbeda. Keunggulan komparatif yang selama ini terasa tidak memadai untuk memenangi sebuah persaingan, saat ini terasa tidak memadai lagi. Kini, kita harus membangun keunggulan kompetitif meskipun keunggulan komparatif tidak selalu berarti harus ditinggalkan.

2.3.7        Utang Luar Negri

Tulus Tambunan dalam bukunya Usaha Mikro Kecil Dan Menengah di Indonesia utang luar negri (ULN) Indonesia sudah pada tingkat yang mengkhawatirkan. Sampai September 2000 total ULN mencapai US$ 149,903 juta (atau Rp149 ribu triliun). Jumlah ini terbagi dalam untang swasta (US$ 85,608 juta) dan utang publik (US$ 55,195 juta).

            Masalah muncul ketika beban pembayaran cicilan utang luar negri tersebut memberatkan PBN karena hampir 1/3 anggaran negara digunakan untuk membayar cicilan utang luar negri. Bahkan kini Indonesia telah masuk ke dalam jebakan utang karena jumlah utang luar negri yang didapat lebih kecil daripada kewajiban membayar cicilan utang. Sebagai gambaran, untuk APBN tahun 2001, Indonesia mendapat utang baru sebesar Rp35,9 triliun, sementara kewajiban untuk membayar cicila pokok bunga utang mencapai Rp38,8 triliun. Hal yang lebih menyesakkan adalah utang yang dibuat swasta pun akhirnya menjadi beban negara.

            Fenomena utang yang ‘menyesakkan” bangsa ini terus terjadi pada tahun 2002, 2003, 2004, bahkan 2005, setelah bantuan untuk Nangroe Aceh Darussalam dan Sumatra Utara dari seluruh dunia yang mencapai total sekitar 10miliar US dollar, yang sebagian besarnya adalah utang.

Tabel 3.9 Posisi Utang Luar Negri Pemerintah dan Bank Sentral

Sumber : Statistik Utang Luar Negri Indonesia (www.bi.go.id )

 

III.             Kesimpulan

 

Meskipun gambaran kehidupan dalam negara berkembang tampak bburan, namun selalu ada upaya pemerintah untuk memberantas dan meningkatkan aspek-aspek ekonomi untuk menjadikan negara lebih baik. Seperti negara Indonesia sebagai negara berkembang yang selalu berupaya untuk menjadi negara yang lebih baik dari tahun ke tahun.

 Daftar Pustaka

Danim, Sudarwan. 2004. Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta: Pustaka Setia

 

Farida, Ai Siti, S.E., M.Si. 2011. Sistem Ekonomi Indonesia. Bandung:

Pustaka Setia

 

Grossmen, Gregory. 2000. Sistem-sitem Ekonomi. Jakarta:

                      Bumi Aksara

 

Indonesia, Bank. 2015. http://www.bi.go.id. 12 Juni 2015

 

Mankiw, N. Gregory. 2000. Pengantar Ekonomi Jilid I. Jakarta: Erlangga

 

Partadiredja, Ace. 1981. Pengantar Ekonomika.Semarang: C.V. Agung Semarang

 

Statistik, Badan Pusat. 2015. http://bps.go.id/index.php. 11 Juni 2015

 

Tambunan, Tulus TH. 2012. Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Indonesia. J

Jakarta: LP3ES

 

Torado, Michael P. 2001. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga.

Jakarta:Erlangga

 

 

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Cara Promosi Produk yang Akan membuat Sukses Penjualan Anda

Komunitas Beatbox Sumbar, Buktikan Eksistensi