Komunikasi Budaya
A. Pengertian Komunikasi Budaya
Kata
atauistilahkomunikasidaribahasaInggris
“communication”.Secaraetimologisataumenurutasalkatanyaadalahdaribahasa Latin
communicatus, danperkataaninibersumberpada kata communis.Dalam kata
communisinimemilikimakna ‘berbagi’ atau ‘menjadimilikbersama’ yaitusuatuusaha
yang memilikitujuanuntukkebersamaanataukesamaanmakna.BudayaataukebudayaanberasaldaribahasaSansekertayaitubuddhayah,
yang merupakanbentukjamakdaribuddhi (budiatauakal) diartikansebagaihal-hal yang
berkaitandenganbudidanakalmanusia.DalambahasaInggris, kebudayaandisebut
culture, yang berasaldari kata Latin Colere,
yaitumengolahataumengerjakan.Bisadiartikanjugasebagaimengolahtanahataubertani.Kata
culture jugakadangditerjemahkansebagai "kultur" dalambahasa
Indonesia.
Martin dan Nakayama (2003:86) menjelaskan bahwa melalui
budaya dapat mempengaruhi proses dimana seseorang mempersepsi suatu realitas.
Semua komunitas dalam semua tempat selalu mewujudnyatakan apa yang menjadi
pandangan mereka terhadap realitas melalui budaya. Sebaliknya pula, komunikasi
membantu kita dalam mengkreasikan realitas budaya dari suatu komunitas.
B. Pengaruh Budaya
Terhadap Komunikasi
Porter dan Samovar (1993:26) menyatakan bahwa hubungan
reciprocal (timbal balik) antara budaya dan komunikasi penting untuk
dipahami bila ingin mempelajari komunikasi antarbudaya secara mendalam. Hal ini
terjadi karena melalui budayalah orang-orang dapat belajar berkomunikasi.
Selanjutnya Porter dan Samovar kembali menegaskan,
kemiripan budaya dalam persepsi akan memungkinkan pemberian makna yang
cenderung mirip pula terhadap suatu realitas sosial atau peristiwa tertentu.
Sebagaimana kita memiliki latar belakang budaya yang berbeda-beda maka dengan
sendirinya akan mempengaruhi cara dan praktek berkomunikasi kita.
Banyak aspek/unsur dari budaya yang dapat mempengaruhi
perilaku komunikasi seseorang. Pengaruh tersebut muncul melalui suatu proses
persepsi dan pemaknaan suatu realitas.
Berikut kita akan membicarakan beberapa unsur sosial
budaya sebagai bagian dari komunikasi antarbudaya, yang dapat berpengaruh
secara langsung terhadap makna-makna yang kita bangun dalam persepsi kita
sehingga mempengaruhi perilaku komunikasi kita (Porter dan Samovar,
2003:28-32).
- Sistem kepercayaan (belief), nilai (values),
dan sikap (attitude).
Mari kita tinjau satu per satu. Kepercayaan dalam
pandangan Mulyana (2004) adalah suatu persepsi pribadi. Kepercayaan merujuk
pada pandangan dimana sesuatu memiliki ciri-ciri atau kualitas tertentu, tidak
peduli apakah sesuatu itu dapat dibuktikan secara empiris (logis) atau tidak.
Berikut dicontohkan Mulyana:
- Berdoa membantu menyembuhkan penyakit.
- Bersiul di malam hari mengundang setan, terutama
di tempat ibadah.
- Menabrak kucing hitam akan membawa kemalangan.
- Angka 9 adalah angka keberuntungan, dll.
Hal senada juga disampaikan Porter dan Samovar, kepercayaan
merupakan kemungkinan-kemungkinan subyektif yang diyakini individu bahwa suatu
obyek atau peristiwa memiliki karakteristik-karakteristik tertentu. Kepercayaan
melibatkan hubungan antara objek yang dipercayai dan
karakteristik-karakteristik yang membedakannya. Selanjutnya ditegaskan lagi,
budaya ternyata memainkan peranan yang sangat kuat dalam pembentukan
kepercayaan.
Dalam konteks komunikasi antar budaya, kita tidak bisa
memvonis bahwa suatu kepercayaan itu salah dan benar. Bila kita ingin membangun
suatu komunikasi yang memuaskan dan sukses maka kita harus menghargai
kepercayaan dari lawan bicara kita yang sekalipun apa yang dipercayainya itu
tidak sesuai dengan apa yang kita percayai.
Sementara nilai-nilai dijelaskan Porter dan Samovar
sebagai aspek evaluatif dari sistem-sistem kepercayaan. Dimensi evaluatif dari
nilai-nilai ini meliputi kualitas kemanfaatan, kebaikan, estetika, kemampuan
memuaskan kebutuhan dan kesenangan.
Dalam pandangan Mulyana (2004:43), nilai merupakan
kepercayaan yang relatif bertahan lama akan suatu benda, peristiwa, dan
fenomena berdasarkan kriteria tertentu.
Nilai-nilai budaya tersebut kemudian dipakai oleh
seseorang menjadi rujukan dalam mempersepsi apa yang baik dan apa yang buruk,
apa yang benar dan yang salah, sejati dan palsu, positif dan negatif, dll.
Nilai-nilai rujukan ini kemudian akan mempengaruhi perilaku komunikasi
seseorang sehingga dapat membedakan atau mentaati perilaku yang mana yang harus
dilakukan dan perilaku komunikasi yang seperti apa yang harus dihindari (Porter
dan Samovar, 1993:29).
Nilai-nilai dalam suatu budaya tampak dalam bentuk
perilaku-perilaku para anggota budaya sebagaimana dituntut atau disyaratkan
oleh budaya yang bersangkutan. Misalnya, umat muslim dituntut untuk menjalankan
ibadah puasa dalam bulan Ramadhan, umat katholik dituntut untuk menghadiri
misa, dsb. Nilai-nilai ini disebut oleh Porter dan Samovar sebagai nilai-nilai
normatif.
Selanjutnya, kepercayaan dan nilai ini berkontribusi
pada pengembangan sikap. Sikap dalam pandangan Porter dan Samovar dipahami
sebagai suatu kecenderungan yang diperoleh dengan cara belajar untuk merespons
suatu objek atau realitas secara konsisten. Sikap tersebut dipelajari dalam
suatu konteks budaya.
Kepercayaan dan nilai-nilai yang kita anut sehubungan
dengan suatu objek akan mempengaruhi sikap kita terhadap objek tersebut.
Misalnya, jika kita percaya bahwa mandi malam tidak baik untuk kesehatan tubuh,
maka kita akan menghindari untuk mandi malam.
2. Pandangan dunia
(world view)
Unsur sosial budaya kedua yang mempengaruhi persepsi
kita terhadap suatu objek atau realitas dan akhirnya mempengaruhi perilaku
komunikasi yakni pandangan dunia. Menurut Porter dan Samovar (1993:30),
pandangan dunia merupakan salah satu unsur terpenting dalam aspek-aspek perseptual
komunikasi antarbudaya. Pandangan dunia berkaitan erat dengan orientasi suatu
budaya terhadap hal-hal seperti Tuhan, kemanusiaan, alam semesta, dll.
Deddy Mulyana (2004:32-4) kemudian menegaskan,
pandangan dunia mempengaruhi pemaknaan suatu pesan. Sebagai salah satu unsur
budaya, jelas bahwa pandangan dunia mempengaruhi komunikasi kita dengan orang
lain. Dicontohkan Mulyana, karena kepercayaan seseorang yang teguh akan
agamanya maka akan mendorongnya untuk bertindak hati-hati, tidak berbohong,
menghina atau memfitnah orang lain, karena meyakini semua tindakan
komunikasinya itu kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.
Menurut Mulyana, salah satu kategori pandangan dunia
adalah agama. Hal ini terjadi karena agama lazimnya terdapat ajaran
mengenai bagaimana seharusnya manusia berhubungan dengan dirinya sendiri, orang
lain, alam semesta, dan Tuhan.
3. Organisasi
sosial (social organization)
Porter dan Samovar (1993:31-32) berpendapat, cara
bagaimana suatu budaya mengorganisasikan dirinya dan lembaga-lembaganya juga
mempengaruhi bagaimana anggota-anggota budaya mempersepsi dunia dan bagaimana
mereka berkomunikasi.
Menurut Porter dan Samovar, ada dua institusi atau
organisasi sosial yang berperanan penting dalam kaitannya dengan persepsi.
Pertama keluarga, yang meskipun merupakan organisasi sosial terkecil dalam
suatu budaya, ia juga mempunyai pengaruh penting. Keluarga memberi banyak
pengaruh budaya kepada anak. Keluargalah yang membimbing anak dalam menggunakan
bahasa untuk berkomunikasi, mulai dari cara memperoleh kata hingga dialek.
Kedua, sekolah dimana diberi tanggung jawab
besar untuk mewariskan dan memelihara suatu budaya. Sekolah memelihara
budaya dengan cara memberitahu murid tentang apa yang telah terjadi di dunia
sekitar, apa yang penting, dan apa yang harus diketahui sebagai anggota dari
suatu komunitas budaya.
C. Komunikasi Mempengaruhi Budaya
Martin dan Nakayama (2004:97-99) mengulas bagaimana
komunikasi mempengaruhi budaya. Dijelaskan, bahwa budaya tidak akan bisa
terbentuk tanpa komunikasi. Pola-pola komunikasi yang tentunya sesuai dengan
latar belakang dan nilai-nilai budaya akan menggambarkan identitas budaya
seseorang.
Contoh yang paling sederhana, Wilibrodus, seorang
mahasiswa yang berasal dari Manggarai berbicang-bincang dengan Andre dari suku
Rote. Dialek yang terdengar baik dari Wilibrodus maupun Andre tersebut
setidaknya mencerminkan identitas budaya masing-masing. Dari dialek Manggarai
yang disampaikan Wilibrodus setidaknya memberi gambaran bahwa ia adalah seorang
anggota dari komunitas budaya Manggarai. Begitu pun dengan Andre.
Jadi jelaslah bahwa perilaku-perilaku komunikasi yang
sudah terbangun dan terpola sedemikian rupa sehingga melahirkan suatu
kharakteristik yang khas akan membentuk suatu kebiasaan/budaya komunikasi bagi
suatu komunitas budaya tertentu. Singkatnya, aktivitas komunikasi dari seorang
anggota budaya dapat merepresentasikan kepercayaan, nilai, sikap dan bahkan
pandangan dunia dari budayanya itu. Selain itu, melalui komunikasi dapat pula
memperkuat nilai-nilai dasar dan esensial suatu budaya.
Komentar
Posting Komentar