Hakikat Filsafat Komunikasi
A. Hakikat
Filsafat Komunikasi
Proses
komunikasi dapat dilihat dalam dua persepsi besar, yaitu perspektif psikologis
dan mekanis. Perspektif psikologis dalam proses komunikasi hendak
memperlihatkan bahwa komunikasi adalah aktivitas psikologi sosial yang
melibatkan komunikator, komunikan, isi pesan, lambang, sifat hubungan,
persepsi, proses encoding dan decoding.
Dari
proses komunikasi yang begitu kompleks dan tidak sederhana tersebut, refleksi
komunikasi diperlukan untuk mendapatkan perspektif yang lebih luas dan
komprehensif.
Menurut
Prof. Onong Uchjana effendi, filsafat komunikasi adalah suatu disiplin yang
menelaah pemahaman secara lebih mendalam, fundamental, metodologis, sistem,
analistis, kritis dan komprehensif teori dan proses komunikasi yang meliputi
segala dimensi menurut bidang, sifat, tatanan, tujuan, fungsi, teknik, dan
metode-metodnya.
Jadi,
filsafat komunikasi adalah ilmu yang mengkaji setiap aspek dari komunikasi
dengan menggunakan pendekatan dan metode filsafat sehingga didapatkan
penjelasan yang mendasar, utuh, dan sistematis seputar komunikasi.
Tokoh-tokoh
yang menjadi pemikir filsafat komunikasi:
1. Pemikiran
Richard L .Lanigan
Ia
membahas analisis filosofis atas proses komunikasi. Ia meletakkan titik
refleksinya pada pertanyaan-pertanyaan:
-
apa yang aku ketahui? (masalah ontologi atau metafisika)
-
bagaimana aku mengetahui? ( masalah epistemologi)
-
apakah aku yakin? (masalah aksiologi)
-
apakah aku benar? (masalah logika)
Metafisika
Richard
L. Lanigan menyatakan bahwa metafisika adalah studi tentang sifat dan fungsi
teori tentang sifat dan fungsi teori tentang realitas.Dalam metafisika, ada
beberapa hal yang direfleksikan.Hal-hal itu adalah sifat manusia dan
hubungannya dengan alam, sifat dan fakta kehidupan manusia, problema pilihan
manusia, dan soal kebebasan tindakan manusia. Dalam hubungannya dengan teori
komunikasi, metafisika berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut :
-
Sifat
manusia dan hubungannya secara kontekstual dan individual dengan realita dan
alam semesta
-
Sifat
dan fakta bagi tujuan, perilaku, penyebab, dan aturan.
-
Problema
pilihan, khusunya kebebasan versus determinisme pada perilaku manusia
Jujun
S. Suriasumantri dalam bukunya “ Filsafat Ilmu” (2005: 63) mengatakan bahwa,
metafisika merupakan suatu kajian tentang hakikat keberadaan zat, pikiran, dan
kaitan zat dengan pikiran. Sedangkan mengenai objek metafisika ditegaskan oleh
Aristoteles, yang mengatakan ada dua, yakni ada sebagaiyang ada dan ada sebagai
yang Ilahi.Pendapat Aristoteles tersebut dijelaskan oleh Prof. Dr.dalam
karyanya “Metafisika” sebagai berikut :
·
Ada
sebagai yang ada
·
Mengenai
hal ini ilmu pengetahuan berupaya mengkaji yang ada itu dalam bentuk semurni-murninya,
bahwa suatu benda itu sungguh-sungguh ada dalam arti kata tidak terkena
perubahan. Ciri bahwa yang ada itu sungguh-sungguh ada, ialah ada dicerapnya
oleh pancaindra. Oleh karena itu, metafisika disebut juga ontologi.
·
Ada
sebagai hal yang Ilahi
·
Hal
lain adalah keberadaan yang mutlak, yang sama sekali tidak bergantuang pada
yang lain. Ini berarti bahwa suatu yang ada adalah yang seumum-umumnyadan yang
mutlak, yakni Tuhan. Apabila kita berbicara tentang yang Ilahi berarti kita
bertolak dari sesuatu yang ada pada dasarnya tidak dapat ditangkap
2. Epistemologi
Merupakan cabang
filsafat yang menyelidiki asal, sifat, metode, dan batasan pengetahuan manusia.Dalam epistemologi, terdapat beberapa teori kebenaran
berdasarkan koherensi, korespondensi, pragmatisme, dan legalisme. Epistimologipadadasarnya adalah carabagaimanapengetahuandisusundaribahan
yang diperoleh yang dalamprosesnyamenggunakanmetodeilmiah.
Metodeilmiahadalahtatacaradarisuatukegiatanberdasarkanperencanaan yang
matangdanmapan, sistematikdanlogis. Pada dasarnya metodeilmiahdilandasi
:
-
Kerangkapemikiran yang logis.
-
Penjabaranhipotesis yang merupakandeduksidankerangkapemikiran.
-
Verifikasiterhadaphipotesisuntukmengujikebnarannya secara faktual.
Aksiologi
Aksiologiadalahcabangfilsafat
yang inginmerefleksikancarabagaimanamenggunakanilmupengetahuan diperoleh. Laningan berpendapat bahwa aksiologiadalah studi etika dan estetika. Dapat dikatakan bahwa
aksiologi adalah kajiantentang nilai manusiawidanbagaimanacaramengekspresikannya.
Dalamhubungannyadenganfilsafatkomunikasi, aksiologimerupakankategorikeempatdarifilsafat
yang merupakan kajian terhadap
apa itu nilai-nilai manusiawi dan bagaimana cara melembagakannya.
Logika
Logikaadalahcabangfilsafat yang menelaahasasdan dasarmetodepenalaransecarabenardalamhalinicaraberkomunikasisecaralebihbaikdanbenar.
Logikapentingdalamberkomunikasikarenapemikiranharusdikomunikasikandan yang
dikomunikasikanmerupakanputusansebagaihasildari proses berpikir,
dalamhaliniberpikirlogis. Pembentukanperspektifbarudidasarkanpadaempatelemenyaitu:
-
Epistemologi, merupakan proses untukmendapatkanilmu. Hal-hal apa yang harus diperhatikan untuk mendapatkan
ilmu yang benar. Cara, teknik, dan sarana apa yang membantu dalam memperoloh
ilmu.
-
Ontologi, berkaitandengan asumsi-asumsimengenaiobjekataurealitas
yang diteliti.
-
Metodologis, berkaitandenganasumsi-asumsimengenaibagaimancaramemperolehpengetahuanmengenaisuatuobjekpengetahuan.
-
Aksiologis berkaitandenganposisivalue judgment, etikadanpilihanmoral
penelitidalamsuatupenelitian.
Kegunaan atau manfaat ilmu dalam kehidupan masyarakat.
1. Pemikiran Stephen W. Littlejohn
Komunikasi menurut Littlejohn dapat digambarkan dalam
matrik persilangan antara tingkah laku sumber pesan dan tingkah laku penerima
pesan.Selanjutnya Littlejohn juga menyoroti perbedaan perspektif yang terdapat
dalam ilmu komunikasi. Perspektif yang ada dalam ilmu komunikasi dapat berbeda
dengan perspektif lainnya, mereka tidak hanya berbeda dalam hal pengelompokan
akan tetapi mereka dapat juga berbeda dalam hal konsepsi maupun asumsi dasar.
Untuk menjelaskan perbedaan konsep, landasan berpikir, fokus dan bias
masing-masing perspektif, mencoba merujuk pada bidang metatheory yang merupakan
suatu bidang yang berusaha untuk menggambarkan dan menjelaskan persamaan dan
perbedaan teori-teori.
Metatheory merupakan bentuk spekulasi pada sifat inquiry
atas isi teori-teori, secara khusus memusatkan perhatian pada beberapa
pertanyaan “apa yang seharusnya diteliti”, “bagaimana observasi seharusnya
dilakukan”, dan “bentuk teori apa yang seharusnya digunakan”. Perdebatan
metatheory merupakan konsekuensi ketidaktentuan pada status pengetahuan pada
suatu bidang ilmu tertentu. Isu-isu metateoretis sangat kompleks akan tetapi
dapat dikelompokkan dalam tiga tema besar, yaitu:
a.
Epistemologi
Merupakan cabang filsafat yang mempelajari pengetahuan,
atau bagaimana seseorang mengetahui apa yang mereka klaim sebagai pengetahuan.
Epistemologi pada hakikatnya menyangkut asumsi mengenai hubungan antara
peneliti dan yang diteliti dalam proses untuk memperoleh pengetahuan mengenai
objek yang diteliti. Merujuk pada pengertian tersebut, maka perbedaan fokus dan
landasan pikiran suatu pespektif dalam ilmu komunikasi dapat dibedakan
berdasarkan standar epistemologi. Teori-teori komunikasi yang berakar pada
paradigma klasik akan berbeda fokus dan landasan pikiran pada kelompok yang
berakar pada paradigma kritis dan kontruktivis.
Beberapa hal yang perlu digarisbawahi dari kubu paradigma
klasik adalah peneliti harus menempatkan diri sebagai value free researcher,
yang senantiasa harus membuat pemisahan antara nilai-nilai subjektif yang
dimilikinya dengan fakta objektif yang diteliti. Sebaliknya peneliti dari kubu
kritis dan konstruktivis melihat hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak
mungkin dan tidak perlu dilakukan. Sebab, setiap penelitian selalu melibatkan
value judgments dan keperpihakan pada nilai-nilai tertentu.
Dengan adanya perbedaan pandangan tentang cara memperoleh
pengetahuan makan dapat dikatakan bahwa “pengetahuan yang diperoleh pada
prinsipnya mengandung ketidakbenaran”.
b.
Ontologi
Merupakan cabang filsafat yang berhubungan dengan alam,
lebih sempitnya alam benda-benda di mana kita berupaya untuk mengetahuinya.
Pada hakikatnya ontology berkaitan dengan asumsi mengenai objek atau realitas
sosial yang diteliti.
Fungsi positif perspektif dapat menyusun teori-teori
komunikasi sehingga memudahkan di dalam penggunaan teori-teori komunikasi
sesuai dengan fokus dan landasan pikiran.
c.
Aksiologi
Yakni, cabang filsafat yang mengkaji nilai-nilai. Bagi
ilmuwan komunikasi ada tiga persoalan:
1)
Apakah
teori bebas nilai?
Ilmu yang
bersifat klasik menganggap teori dan penelitian bebas nilai. Ilmu pengetahuan
bersifat netral, berupaya memperoleh fakta sebagaimana tampak dalam dunia
nyata.
2)
Sejauh
mana pengaruh praktik penelitian terhadap objek yang diteliti?
Titik pandang
ilmiah secara tradisional menunjukkan bahwa para ilmuwan melakukan pengamatan
secara hati-hati, tetapi tanpa inteferensi dengan tetap memelihara kemurnian
pengamatan.
3)
Sejauhmana
ilmu berupaya mencapai perubahan sosial?
Banyak ilmuwan
menganggap bahwa peranan yang sesuai untuk ilmuwan adalah menghasilkan ilmu.
Ilmuwan lain tidak menyetujuinya dengan mengatakan bahwa kaum intelektual
bertanggung jawab untuk mengembangkan perubahan sosial yang positif.
2.
Pemikiran
Whitney R. Mundt
Filsafat komunikasi menampilkan kekuatan media dan
prinsip-fungsi media berikut hubungannya dengan negara. Mundt dalam filsafatnya
menyatakan penjelasan keterpautan pemerintah dengan jurnalistik di mana
keseimbangan kekuatan selalu bergeser.
Menurut Mundt, pers terbagi menjadi lima, yakni:
a.
Otoriter,
yakni sistem pers di mana ada sensor dan lisensi dari pemerintah. Pemerintah
menekan kritik sehingga kekuasaan terpelihara.
b.
Sosial-otoriter,
yakni pers dimiliki oleh pemerintah atau partai pemerintah untuk melengkapi
pers guna mencapai tujuan ekonomi nasional dan tujuan filsafatri.
c.
Libertarian,
yakni ketiadaan pengawasan pemerintah (kecuali undang-undang tentang fitnah dan
cabul), untuk menjamin berkembangnya gagasan secara bebas.
d.
Sosial-libertarian,
yakni pengawasan pemerintah secara minimal untuk menyumbat saluran-saluran
komunikasi dan untuk menjamin semangat operasional dari filsafat libertarian.
e.
Sosial-sentralis,
yakni kepemilikan pemerintah atau lembaga umum dengan saluran komunikasi
terbatas untuk menjamin semangat operasional dari filsafat libertarian.
Tema Pokok dalam Etika dan Filsafat Komunikasi
A. Manusia Sebagai Pelaku Komunikasi
Hakikat komunikasi adalah proses ekspresi antarmanusia.
Setiap manusia mempunyai kepentingan untuk menyampaikan pikiran atau perasaan
yang dipunyai. Tentu saja hal itu memakai dan memanfaatkan bahasa sebagai
medium komunikasinya. Dalam setiap kehidupan, manusia memerlukan pemahaman yang
lebih mendalam atas segala hal yang dilakukannya, termasuk di dalamnya proses komunikasi.
Posisi manusia dalam komunikasi dapat dilihat pada
rumusan komunikasi dari Lasswell yaitu “who say what to whom in what channel
with what effect” dan model komunikasi Aristoteles meliputi “pembicara” dan
“pendengar”. Rumusan komunikasi menurut Aristoteles sendiri terdiri dari empat
unsur, yakni pembicara, argumen, pidato, dan pendengar. Maka, menjadi mutlak
untuk memahami manusia secara filosofis agar komunikasi kita menjadi efektif.
1.
Definisi
Manusia
Ciri manusia menurut Aristoteles adalah memiliki
totalitas, yakni persatuan roh dan jasad. Anima adalah penyebab hidup, bukan
penyebab kesadaran, sedangkan yang menyebabkan kesadaran adalah “aku”/rohani.
“Aku” adalah juga yang merasa, sedangkan pusat panca indra ada di otak, dan
memiliki perangsang masing-masing yang disebut “adequatus”. Pemikiran tersebut
tampaknya masuk ke dalam konvergensi, yakni penggabungan tiga aliran besar
tentang manusia yakni:
a)
Materialisme
Yaitu aliran yang melihat manusia ada pada fisiknya.
Maka, orang yang sudah meninggal, dalam aliran ini tidak lagi disebut manusia.
b)
Idealisme
Bahwa keberadaan manusia adalah pada ide yang terletak di
pemikiran. Maka, dalam aliran ini orang gila tidak lagi disebut sebagai manusia
karena ia tidak bisa lagi berpikir.
c)
Eksistensialisme
Aliran ini melihat manusia pada eksistensinya, yakni
sejauh mana keberadaannya diakui oleh masyarakat sekitarnya. Aliran ini tidak
memperhitungkan materi beserta atribut yang dimiliki seseorang sebagai nilai
kemanusiaan.
2.
Kritik
Eksistensialisme Terhadap Materialisme
Menurut kaum eksistensialis, kesalahan aliran
materialisme terletak pada pandangan materialisme yang mendetotalisasi manusia,
memungkiri totalitas manusia. Mengatakan bahwa manusia adalah hanya materi,
berarti memungkiri manusia sebagai keseluruhan. Pandangan materialisme ini
sudah menjadi klasik, artinya sudah mempunyai kedudukan yang kuat, tetapi
salah. Salah, oleh karena memungkiri kebenaran, bahwa manusia itu mengerti,
berkehendak dengan bebas, mengerti, dan membina kebudayaan. Semua itu tidak bisa
diterangkan dengan teori materialisme. Dengan kata lain, materialisme
bertentangan dengan realitas.
3.
Kritik
Eksistensialisme Terhadap Idealisme
Menurut aliran eksistensialisme, kesalahan idealisme
ialah bahwa idealisme memandang manusia hanya sebagai subjek, dan akhirnya
sebagai kesadaran semata-mata. Idealisme lupa bahwa manusia hanya berdiri
sebagai manusia karena bersatu dengan realitas sekitarnya. Jadi, menurut paham
eksistensialisme, manusia bukanlah hanya objek sebagaimana menjadi pandangan
ajaran materialisme, tetapi juga bukan hanya subjek atau kesadaran, seperti
menjadi anggapan kaum idealisme. Manusia adalah eksistensi.
Jelaslah, bahwa manusia bukan hanya materi saja, bukan
hanya “apa” saja, tetapi “siapa”. Dan kesiapaan inilah yang terpenting pada
manusia. Manusia bukan hanya benda jasmanai, tetapi perpaduan jasmani dan
rohani. Manusia itu adalah kesatuan jasmani dan rohani yang tidak mungkin
dipisahkan.
4.
Ethos,
Pathos, dan Logos
a)
Ethos
adalah sumber kepercayaan yang ditunjukkan oleh seorang komunikator bahwa ia
memang pakar dalam bidangnya, sehingga oleh karena ia seorang ahli, maka ia
dapat dipercaya. Faktor ethos lainnya adalah track record, yakni rekam jejak
seseorang terhadap suatu bidang.
b)
Pathos
adalah tampilan emosi, komunikator harus pas memunculkan semangat dan gairah
berkomunikasi.
c)
Logos
adalah argumentasi komunikasi harus masuk akal. Argumentasi disusun sedemikian
rupa sehingga pesan yang disampaikan memiliki kekuatan argumen, yang pada
gilirannya bisa meyakinkan audiens yang dituju oleh suatu pesan.
5.
Komunikator
Humanistis
Komunikator humanistik adalah diri seseorang yang unik
dan otonom, dengan proses mental mencari informasi secara aktif, yang sadar
akan dirinya dan keterlibatannya dalam masyarakat, memiliki kebebasan memilih,
dan bertanggung jawab terhadap perilaku yang diakibatkan. Teori humanistik
bertujuan menggambarkan teori perilaku manusia yang sederhana dan berdiri
sendiri. Seorang komunikator humanistik memiliki empat ciri, yakni:
a)
Berpribadi
Aspek yang paling penting dari pandangan humanistik
adalah pandangan sebagai diri seseorang. Dapat saja ia disebut organisme atau
individu, tetapi pertama-tama ia harus dianggap manusia.
b)
Unik
Diri seseorang sebagai manusia yang berpribadi adalah
unik, lain dari yang lain. Kekhasan dan keunikan itu merupakan ciri yang paling
bernilai.
c)
Aktif
Yang melekat pada proses mental adalah aktivitas. Sebagai
sistem yang aktif kita mencari informasi atau menciptakan informasi.
d)
Sadar
diri dan keterlibatan sosial
Kesadaran diri membantu kita menimbulkan kesadaran bahwa
dalam setiap situasi komunikasi kita dihadapkan pada pilihan-pilihan terhadap
apa yang harus kita lakukan. Seseorang yang sadar akan dirinya dan
keterlibatannya dalam masyarakat akan dapat menentukan mengapa ia berprilaku
seperti yang ia lakukan.
Tiga asumsi pokok mengenai sifat dasar manusia menurut
aliran behavioristik, yakni:
a)
Asumsi
yang menyatakan bahwa perilaku dipelajari dengan membentuk asosiasi. Asosiasi
ini dapat dosebut kebiasaan, refleksi atau hubungan antara respon dengan
peneguhan hal-hal yang memungkinkan dalam lingkungan.
b)
Asumsi
yang menyatakan bahwa manusia pada dasarnya bersifat hedonistik. Hedonistik
adalah berupaya mencari kesenangan dan menghindari kesulitan.
c)
Asumsi
yang menyatakan bahwa perilaku ditentukan oleh lingkungan. Oleh karena itu
perilaku merupakan fungsi asosiasi antara tindakan dengan peneguhan dan semua
peneguhan berasal dari lingkungan, maka dengan menggunakan lingkungan, orang
pada akhirnya dapat menghasilkan perilaku yang diinginkan.
B. Teknologi Komunikasi
1.
Ambivalensi
Teknologi Komunikasi
Dalam teori teknologi media dan masyarakat massa misalnya
dikatakan bahwa teknologi media memiliki sejumlah asumsi untuk membentuk
masyarakat. Teknologi media massa memiliki efek yang berbahaya sekaligus
menular bagi masyarakat. Teknologi media massa memiliki kekuatan untuk
mempengaruhi pola pikir rata-rata audiensnya.
2.
Apakah
Teknologi Itu Netral?
Ada dua jawaban dari pertanyaan tersebut, yakni Ya. Jika
kita melihat teknologi dengan segala prinsip kerjanya, dan tidak, jika kita
melihat pada manusia disekitar teknologi. Terkait dengan ambivalensi teknologi
komunikasi, Marshal McLuhan, pakar komunikasi dari Kanada menyebut dua
kemungkinan pengaruh perkembangan teknologi komunikasi, yakni:
a)
Global
Village
Yakni, teknologi komunikasi menciptakan manfaat positif
dengan mengatasi hambatan jarak dan waktu, sehingga seolah-olah dunia hanyalah
sebuah desa.
b)
Global
Pillage
Yakni, teknologi menciptakan manfaat negatif, dengan cara
menciptakan ketergantungan. Manusia menjadi sangat bergantung pada teknologi,
tanpa menyadari bahwa teknologi pada dasarnya hanya merupakan alat untuk
mencapai tujuan.
3.
Aspek
Teknologi
Menurut Arnold Pacey, dijelaskan bahwa teknologi
memilliki tiga aspek yang saling terkait.
a)
Technical
aspect
Ini merupakan pengetian terbatas dari teknologi. Aspek
ini, meliputi knowledge, skill, technique, tools/machines, chemicals,
liveware/resources, products dan wastes.
b)
Cultural
aspect
Aspek ini meliputi goals, values, ethical codes, belief,
awarness, dan creativity.
c)
Organizational
aspect
Aspek ini meliputi economic and industrial activity,
professional activities, users and consumers, dan trade union.
4.
Teknologi
Komunikasi dan Masyarakat Informasi
Masyarakat informasi adalah suatu masyarakat di mana
produksi, pemrosesan, distribusi, dan konsumsi informasi menjadi aktivitas yang
utama. Ada sejumlah faktor yang mendorong terbentuknya masyarakat informasi,
yakni:
a)
Konvergensi
teknologi
Ini adalah penyatuan sejumlah teknologi sehingga
membentuk suatu media komunikasi yang baru.
b)
Berkembangnya
internet
Internet kini sudah masuk desa. Walaupun penetrasinya
masih terbatas, namun perkembangnya menunjukkan grafik yang pesat.
c)
Digitalisasi
Adalah konversi segala data sehingga bisa dibaca oleh
komputer.
d)
Konvergensi
media
Ini tidak lepas dari konvergensi teknologi, hanya jika
yang kedua menitikberatkan pada teknologinya, maka konvergensi media lebih
menitikberatkan pada kontennya.
e)
Mager
industri
Marger industri dalam dunia komunikasi massa tidak dapat
dielakkan lagi, mengingat perkembangan dan perputaran kapital dalam industri
media massa sangat menjanjikan.
5.
Ekses
teknologi komunikasi
Ekses dari perkembangan teknologi antara lain berupa:
a)
Perubahan
gaya hidup
Yakni perubahan apa yang dibutuhkan menjadi apa yang
diinginkan, begitu juga sebaliknya.
b)
Tantangan
karir
Perkembangan teknologi menuntut seseorang untuk menguasai
perkembangan tersebut, sekaligus menguasai update dari teknologi.
c)
Perubahan
regulasi
Regulator dituntut untuk merevisi berbagai aturan yang
tidak lagi sesuai dengan perkembangan teknologi. Padahal sejatinya regulator
haruslah memiliki independensi.
Kekuatan sejatinya berada pada pihak yang menguasai
teknologi komunikasi.
6.
Berbagai
Paradigma dalam Teknologi Komunikasi
a)
Determinisme
teknologi
Berasumsi
bahwa teknologi adalah kekuatan kunci dalam mengatur masyarakat.struktur sosial
dibentuk oleh materialitas teknologi. Masyarakat tidak perlu cukup alasan untuk
melakukan perubahan, tapi melulu berdasarkan pertimbangan teknologi.
b)
Fenomenologi
teknologi
Yaitu memahami
teknologi dalam kaitannya dengan fenomena sosial yang melingkupi teknologi. Ada
tiga lingkup sosial, yaitu lingkup mikro, meso dan makro.
c)
Otoriterianisme
Teknologi
media otoriter menempatkan media sebagai alat propaganda pemerintah. Fungsi
teknologi media adalah menjustifikasi versi kebenaran negara tentang berbagai
persoalan yang muncul dalam kehidupan masyarakat.
d)
Liberalisme
Paradigma
liberal adalah antitesa paradigma otoritarian. Teknologi media tak lagi menjadi
alat pemerintah. Dan bisa dimiliki secara pribadi.
e)
Tanggung
jawab sosial
Merupakan
pengembangan sekaligus kritik terhadap paradigma liberal. Prinsip bahwa
teknologi media harus dilepaskan dari intervensi pemerintah, tetap
dipertahankan.
7.
Pemikiran
Jaques Ellul tentang Teknologi Komunikasi
Ia mengatakan bahwa teknologi komunikasi merupakan
kekuatan sosial yang baru yang menjadi kebutuhan manusia. Kita tidak bisa hidup
tanpa teknologi, tapi pada saat yang sama kita juga harus menghadapi resiko dan
konsekuensinya yang dibawa oleh teknologi.teknologi komunikasi telah
menyebabkan terjadinya propaganda, yaitu pola komunikasi yang bersifat politis
dan komersial yang hampir tak terasa gejalanya.
C. Komunikasi Efektif dan Strategi
Komunikasi
Tidak
peduli seberapa berbakatnya seseorang, betapa pun unggulnya seseorang,
kesuksesan tidak akan pernah diperoleh tanpa penguasaan keterampilan komunikasi
yang efektif. Wilbur Schramm menyebut sebagai “The Conditions of Success in
Communication”, yakni kondisi yang harus dipenuhi jika kita ingin agar pesan
yang kita sanpaikan menghasilkan tanggapan yang kita inginkan. The Conditions
of Success in Communication tersebut meliputi:
l Pesan
harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa, sehingga dapat menarik
perhatian komunikan.
l Pesan
harus menggunakan lambang yang memiliki pengertian yang sama antara komunikator
dan komunikan, sehingga sama-sama mengerti
l Pesan
harus dapat menumbuhkan kebutuhan pribadi komunikan sekaligus menyediakan
alternatif mencapai kebutuhan tersebut
l Pesan
harus berkaitan dengan kebutuhan kelompok dimana komunikan berbeda
1. Komunikasi
Efektif Menurut Stephen Covey
Menurut
Stephen R. Covey komunikasi merupakan ketrampilan yang paling penting dalam
hidup kita. Kita menghabiskan sebagian besar jam di saat kita sadar dan bangun
untuk berkomunikasi. Sama halnya dengan pernapasan, komunikasi kita di anggap
sebagai hal yang otomatis terjadi begitu saja, sehingga kita tidak memiliki
kesadaran untuk melakukannya dengan efektif. Untuk yang terakhir, ketrampilan
untuk mendengar tidak pernah diajarkan atau kita pelajari dalam proses
pembelajaran yang kita lakukan baik di sekolah formal maupun pendidikan
informal lainnya. Bahkan menurut Covey, hanya sedikit orang yang pernah
mengikuti pelatihan mendengar.
Covey
menekankan konsep interdependency untuk menjelaskan hubungan
antarmanusia. Unsur yang paling penting dalam komunikasi bukan sekedar pada apa
yang kita tulis atau kita katakan, tetapi pada karakter kita dan bagaimana kita
menyampaikan pesan kepada penerima pesan. Jadi, sayarat utama dalam komunikasi
efektif adalah karakter yang kukuh yang dibangun dari fondasi integritas
pribadi yang kuat.
Berusaha
benar-benar mengerti orang lain adalah dasar dari apa yang disebut emphatic
communication (komunikasi empati). Ketika kita berkomunikasi dengan orang
lain, biasanya “berkomunikasi” merupakan salah satu dari empat tingkat. Secara
selektif komunikasi ada pada saat kita memerlukannya, dan membangun komunikasi
yang atentif (penuh perhatian) tetapi tidak benar-benar berasal dari dalam diri
kita. Bentuk komunikasi tertinggi adalah komunikasi empati, yaitu melakukan
komunikasi untuk terlebih dahulu mengerti orang lain memahami karakter dan
maksud dari peran orang lain.
Covey,
dalam bukunya yang sangat terkenal “The 7 Habits of Highly Effective
People”, memberi panduan menjadi komunikator yang baik melalui penguasaan
kebiasaan perilaku untuk menjadi manusia yang efektif, yakni:
1. Proaktif
Manusia proaktif sikap dan perilaku
mereka akan selalu terpengaruh kondisi fisik. Manusia proaktif memiliki
kebebasan atas pilihan perilaku mereka. Manusia proaktif akan selalu merasa
baik walaupun cuaca tidak baik.
2. Rencanakan
sesuatu dengan tuntas dalam pikiran
Berkaitan dengan kemampuan imajinasi
manusia dalam melihat apa yang belum terjadi.
3. Membuat
prioritas
Tanpa prioritas, kita tidak akan
mempunyai fokus.
4. Berpikir
menang - menang (win - win)
Pemikiran menang - menang (win - win)
tidak memandang hidup sebagai sebuah kompetisi (win - lose), melainkan
bekerjasama. Yang dicari adalah mutual (saling menguntungkan). Pola pikir win -
win harus memiliki 3 karakter vital. Integritas, kedewasaan dan kekayaan
mental.
5. Memahami,
bukan dipahami
Berusahalah untuk selalu memahami orang
lain. Kunci untuk memahami orang lain adalah mendengarkan apa yang orang lain
katakan. Dengan begitu, orang yang berkomunikasi dengan kita tersebut akan
merasa nyaman dan kita pun menjadi manusia yang efektif.
6. Sinergi
Sinergi dilakukan untuk menghasilkan
kerjasama yang kreatif.Dalam sinergi, kita bersikap terbuka terhadap pengaruh
orang lain, karenanya perbedaan harus dilihat sebagai kekuatan, bukan
kelemahan.
7. Memanfaatkan
aset yang dimiliki
Fisik, sosial/emosional, mental, dan
spiritual.Hal - hal tersebut harus selalu diasah sehingga mendatangkan hal -
hal positif secara maksimal.
2. “Reach”
sebagai Hukum Komunikasi Efektif
REACH
merupakan kepanjangan dari Respect, Empathic, Audible, Clarity, dan Humble.
A. Respect
Hukum pertama dalam mengembangkan
komunikasi yang efektif adalah sikap menghargai setiap individu yang menjadi
sasaran pesan yang kita sampaikan.Karena pada prinsipnya, setiap manusia ingin
dihargai dan dihormati serta dianggap penting.
B.
Empathic
Empati adalah kemampuan kita untuk
menempatkan diri kita pada situasi yang dihadapi oleh orang lain. Sebelum kita
membangun komunikasi atau mengirimkan pesan, kita perlu paham dan mengerti
dengan empati calon penerima pesan kita.Sehingga pesan yang disampaikan dapat
sampai dengan efektif.
C.
Audible
Makna dari audible antara lain: dapat
didengarkan atau dimengerti dengan baik. Pesan yang kita sampaikan dapat
diterima oleh penerima pesan. Hukum ini mengatakan bahwa pesan harus
disampaikan melalui media atau delivery channel sedemikian hingga dapat
diterima dengan baik oleh si penerima pesan.
D.
Clarity
Clarity berarti terbuka atau
transparan.Dalam berkomunikasi, kita perlu mengembangkan sikap terbuka sehingga
menimbulkan rasa percaya dari penerima pesan.
E.
Humble
Sikap rendah hati antara lain: sikap
yang penuh melayani, sikap menghargai, mau mendengar dan menerima kritik, tidak
sombong dan memandang rendah orang lain, berani mengakui kesalahan, rela
memaafkan, lemah lembut dan penuh pengendalian diri, serta mengutamakan
kepentingan yang lebih besar.
3. Know
Your Audience
Aspek
yang ada pada audiens yaitu
l Timing
yang tepat untuk suatu pesan.
l Bahasa
yang harus digunakan agar pesan dapat dimengerti.
l Sikap
dan nilai yang harus ditampilkan agar efektif.
l Jenis
kelompok dimana komunikasi akan dilaksanakan.
4. Faktor
pada Komunikator
Pada
sisi komunikator, ada 2 hal yang harus diperhatikan.
A. Source
credibility, yaitu sumber kepercayaan sehingga apa yang disampaikan akan
dipercaya oleh orang lain. Kepercayaan ini bersumber pada keahlian, track
record bisa dipercaya atau tidak, dan objektivitas ketika kita memberi
penilaian.
B. Source
attractiveness, yaitu hal - hal yang bisa mendatangkan ketertarikan sehingga
komunikan akan memperhatikan pesan yang kita sampaikan.
5. Hambatan
Komunikasi
Beberapa
hambatan yang ada yaitu
A. Gangguan
komunikasi
B. Kepentingan
C. Motivasi
terpendam
D. Prasangka
6. Evasi
Komunikasi
Evasi
komunikasi adalah pembelokan komunikasi, baik disengaja maupun tidak. Bila
dibiarkan, maka tujuan komunikasi pasti tidak akan tercapai. Evasi komunikasi
meliputi:
A. Menyesatkan
pengertian
B. Mencacatkan
pesan komunikasi
C. Mengubah
kerangka referensi
B.
Komunikasi Sebagai Proses Interaksi Simbolik
Interaksionsme merupakan pandangan-pandangan terhadap
realitas social yang muncul pada akhir decade 1960-an dan awal decade 1970,
tetapi para pakar beranggapan bahwa pandangan tersebut tidak bisa dikatakan
baru.
1.
Aliran Chicago (Chicago School)
Goerge
Herbert Mead, pada umumnya dipandang sebagai pemula utama dari pergerakan, dan
pekerjaan yang pasti membentuk inti dari Aliran Chicago. Hermert Blumer, Mead
merupakan pemikir terkemuka, menemukan istilah interaksionalisme simbolis,
suatu ungkapan Mead sendiri tidak pernah menggunakannya. Blumer mengacu pada
label ini sebagai “suatu sedikit banyaknya pembentukan kata baru liar yang di
dalam suatu jalan tanpa persiapan”. Ketiga konsep utama dalam teori Mead,
menangkap di dalam jabatan pekerjaan terbaik yang dikenalnya, adalah
masyarakat, diri, dan pikiran. Kategori ini adalah aspek yang berbeda
menyangkut proses umum yang sama, social anda bertindak.
2.
Aliran Lowa
Manford
Kuhn dan para muridnya, walaupun mereka memelihara dasar prinsip interaksionis,
yang pertama akan membuat konsep diri lebih nyata dan yang kedua penggunaan
dari riset kuantitatif. Kuhn membangun suatu titik kelakuan yang
terbaru.Sebagai hasilnya pekerjaan Kuhn beralih lebih kea rah analisa
mikrokospis disbanding mengerjakan pendekatan Chicago yang tradisional.
3.
Kelompok dan Komunikasi Kelompok
Kelompok
adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu
sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan
memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut.
Ada 4 elemen yang
tercakup dalam definisi di atas,yaitu:
-
Interaksi tatap muka, terminology tatap
muka mengandung bahwa setiap anggota kelompok harus dapat melihat dan mendengar
anggota lainnya dan juga harus dapat mengatur umpan balik secara verbal maupun
nonverbal dari setiap anggotanya
-
Jumlah partisipan yang terlibat
interaksi, jumlah anggota komunikasi kelompok berkisar 3-20 orang
-
Maksud dan tujuan yang dikehendaki,
bermakna bahwa maksud atau tujuan tersebut akan memberikan beberapa tipe identitas
kelompok
-
Kemampuan anggota untuk dapat
menumbuhkan karakteristik pribadi anggota lainnya.
Komunikasi
kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu
kelompok “kecil”, seperti dalam rapat, pertemuan, konferensi, dan sebagainya.
Cara
membedakan kelompok berdasarkan karakteristik komunikasinya:
-
Kualitas komunikasi pada kelompok primer
bersifat dalam dan meluas.
-
Komunikasi pada kelompok primer bersifat
personal, sedangkan kelompok sekunder nonpersonal
-
Komunikasi kelompok primer lebih
menekankan aspek hubungan daripada aspek isi, sedangkan kelompok sekunder
adalah sebaliknya
-
Komunikasi kelompok primer cenderung
ekspresif, sedangkan kelompok sekunder instrumental
-
Komunikasi kelompok primer cenderung
informal, sedangkan kelompok sekunder formal
C.
Istilah Pokok Teori Simbolis Interaksionisme
·
Identitas, yakni pemaknaan diri dalam
suatu pengambilan peran
·
Bahasa, yakni suatu sistem symbol yang
digunakan bersama diantara anggota kelompok social
·
Cara melihat diri, yakni gambaran mental
sebagai hasil dari mengambil peran orang lain
·
Makna, yakni tujuan dan atribut bagi
sesuatu
·
Pikiran, yakni proses mental yang
terdiri dari self, interaksi, dan refleksi
·
Bermain peran, yakni kemampuan untuk
melihat diri seseorang sebagai objek, sehingga diperoleh gambaran bagaimana dia
lain melihat orang lain tersebut
·
Konsep diri,yakni gambaran yang kita
punya tentang siapa dan bagaimana diri kita yang dibentuk sejak kecil melalui
interaksi dengan orang lain.
·
Harapan untuk pemenuhan diri, yakni
tendensi bagi ekspektasi untuk memunculkan respon bagi orang lain yang
diantisipasi oleh kita
D.
Pemikiran George Herbert Mead
1)
Konsep Mead tentang “Mind”
Menurutnya,
mind adalah fenomena social yang tumbuh dan berkembang dalam proses social
sebagai hasil dari interaksi. Mead mengelaborasi relasi bahasa dan mind. Mead
membantu bahasa meningkatkan kapasitas, seperti:
-
Menentukan objek dalam lingkungan
social, melalui pembentukan symbol yang significant
-
Menggunakan symbol sebagai stimulus
untuk menghasilkan respon dari orang lain
-
Membaca dan menginterpretasikan gesture
orang lain dan menggnakan stimulus ini sebagai respon
-
Menyediakan imajinasi alternative dari
stimulus dan respon dari lingkungan
2)
Konsep Mead tentang “Self”
Menurutnya,
self adalah proses yang tumbuh dalam keseharian social yang membentuk identitas
diri. Perkembangan self tergantung pada bagaimana seseorang melakukan
pengambilan peran dari orang lain. Esensi self bagi Mead adalah reflexivity,
yakni bagaimana kita merenung ulang relasi dengan orang lain untuk kemudian
memunculkan adopsi nilai dari orang lain.
3)
Konsep Mead tentang “Society”
Menurutnya,
society adalah kumpulan self yang melakukan interaksi dalam lingkungan yang
lebih luas yang berupa hubungan personal, kelompok intim,dan komunitas.
E.
Pemikiran George Herbert Blumer
-
Manusia berprilaku terhadap hal-hal
berdasarkan makna yang dimiliki hal-hal tersebut baginiya
-
Makna hal-hal tersebut berasal dari atau
muncul dari interaksi social yang pernah dilakukan dengan orang lain
-
Makna-makna itu dikelola dalam dan
diubah melalui proses penafsiran dengan hal-hal yang dijumpai.
1.
Konsepsi Blumer tentang “Meaning”,
“Language”, dan “Society”
Meaning, merupakan dasar
bagi kita untuk bertindak terhadap segala sesuatu
Language, makna yang
tumbuh dalam interaksi social yang menggunakan bahasa
Thought, merupakan
interpretasi individu atas symbol yang dimodifikasi melalui proses berpikir
seseorang
2.
Konsep Pokok Bluner tentang Teori
Simbolis Interaksionisme
a.
Konsep Diri
Seorang
diri harus mampu memandang dirinya sebagai objek pikirannya sendiri dan
berinteaksi dengan dirinya sendiri.Ia mengarahkan dirinya kepada berbagai
objek, termasuk dirinya sendiri, berunding dan berwawancara dengan dirinya
sendiri.
b.
Konsep Kegiatan
Manusia
menghadapkan dirinya dengan berbagai hal, seperti tujuan, perasaan, kebutuhan,
perbuatan, dan harapan serta bantuan orang lain, citra dirinya, cita-citanya,
dan lain sebagainya
c.
Konsep Objek
Manusia
hidup ditengah-tengah objek.Segala sesuatu yang menjadi sasaran perhatian
manusia.Objek bisa bersifat konkrit seperti kursi, meja, dan seterusnya, dan
dapat pula bersifat abstrak seperti kebebasan.Ini hakikatnya objek tadi tidak
ditentukan oleh ciri-cirinya, melainkan oleh minat seseorang dan makna yang
dikenakan kepada objek tersebut.
d.
Konsep Interaksi Sosial
Interaksi
social adalah suatu proses hubungan timbal balik yang dilakukan oleh individu,
antara individu dengan kelompok, antara kelompok dengan individu, antara
kelompok dengan kehidupan social.
Sebuah hubungan bisa
disebut interaksi memiliki ciri-ciri:
-
Jumlah pelakunya dua orang/lebih
-
Adanya komunikasi antarpelaku dengan
menggunakan symbol atau lambing-lambang
-
Adanya suatu dimensi waktu yang meliputi,
massa lalu, masa kini, dan masa yang akan dating
-
Adanya tujuan yang hendak dicapai
e.
Konsep Aksi Bersama
Istilah
ini berarti sebagai kegiatan kolektif yang timbul dari penyesuaian dan
penyerasian perbuatan orang-orang satu sama lain. Hal ini menunjukkan bahwa
hakikat masyarakat, kelompok atau organisasi tidak harus dicari dalam struktur
relasi-reelasi yang tetap, melainkan dalam proses aksi yang sedang berlangsung
Komentar
Posting Komentar