EPISTIMOLOGI DAN AKSIOLOGI
Ada 3 cabang – cabang ilmu filsafat. Cabang cabang ilmu
filsafat di antaranya Ontologi,
Epistimologi, dan Aksiologi. Ontologi adalah cabang ilmu yang membahas hakikat
segala sesuatu yang ada. Epistimologi adalah cabang ilmu menjelaskan tentang
bagaimana mencari pengetahuan dan seperti apa pengetahuan tersebut. Aksiologi
membahas tentang untuk apa ilmu itu digunakan. Disini kami akan menjelaskan
tentang epistimologi dan aksiologi.
1.
Epistemologi
a.
Pengertian
Secara etimologi, epistemologi merupakan kata gabungan yang
diangkat dari duakata dalam bahasa Yunani, yaitu episteme dan logos. Episteme
berarti pengetahuan ataukebenaran dan logos berarti pikiran, kata atau teori.
Dengan demikian epistimologi dapatdiartikan sebagai pengetahuan sistematikmengenahi
pengetahuan. Epistimologi dapat jugadiartikan sebagai teori pengetahuan
yang benar (teori of knowledges). Epistimologi adalahcabang filsafat
yang membicarakan tentang asal muasal, sumber, metode, struktur danvaliditas
atau kebenaran pengetahuan.
Istilah epistimologi dipakai pertama kali oleh J. F. Feriere untuk
membedakannyadengan cabang filsafat lain yaitu ontologi (metafisika umum).
Filsafat pengetahuan(Epistimologi) merupakan salah satu cabang filsafat yang
mempersoalkan masalah hakikat pengetahuan. Epistomogi merupakan bagian dari
filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan
asal mula pengetahuan, batas – batas, sifatsifat dan kesahihan pengetahuan.
Masalah epistemology bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan
tentang pengetahuan. Sebelum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan,
perlu diperhatikan bagaimana dan dengan sarana apakah kita dapat memperoleh
pengetahuan. Jika kita mengetahui batas-batas pengetahuan, kita tidak akan
mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat di ketahui.
Memang sebenarnya, kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah
kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemology.
Epistemologi adalah nama lain dari logika material atau logika
mayor yang membahas dari isi pikiran manusia, yaitu pengetahuan. Epistemologi
merupakan studi tentang pengetahuan, bagaimana mengetahui benda-benda.
Pengetahuan ini berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: cara manusia
memperoleh dan menangkap pengetahuan dan jenis-jenis pengetahuan.
Menurut epistemologi, setiap pengetahuan manusia merupakan hasil dari
pemeriksaan dan penyelidikan benda hingga akhirnya diketahui manusia. Dengan
demikian epistemologi ini membahas sumber, proses, syarat, batas fasilitas, dan
hakekat pengetahuan yang memberikan kepercayaan dan jaminan bagi guru bahwa ia
memberikan kebenaran kepada murid-muridnya.
b.
Metode-metode untuk Memperoleh Pengetahuan
Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh
pengetahuan, atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai
hanyalah kemungkinankemungkinan dan bukannya kepastian, atau mungkin dapat
menetapkan batas-batas antara bidang-bidang yang memungkinkan adanya kepastian
yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya. Manusia tidak lah
memiliki pengetahuan yang sejati, maka dari itu kita dapat mengajukan pertanyaan
“bagaimanakah caranya kita memperoleh pengetahuan”?
Empirisme
Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan
cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke, bapak
empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya
merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa),dan di dalam buku catatan
itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh sisa
pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan
ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertamapertama dan
sederhana tersebut.
Rasionalisme
Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada
akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan
pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran.
Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di
dalam ide kita, dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. Jika
kebenaranmengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada
kenyataan, makakebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat
diperoleh dengan akal budisaja.
Fenomenalisme
Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. Kant membuat uraian
tentang pengalaman. Baran sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinyan sendiri
merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk
pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Karena itu
kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti
keadaanya sendiri, melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada
kita, artinya, pengetahuan tentang gejala (Phenomenon). Bagi Kant para penganut
empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan di dasarkan pada
pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian. Tetapi para penganut
rasionalisme juga benar, karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri
terhadap barang sesuatu serta pengalaman.
Intusionisme
Menurut Bergson, intuisi adalah suau sarana untuk mengetahui
secara langsung dan seketika. Analisa, atau pengetahuan yang diperoleh dengan
jalan pelukisan, tidak akan dapatmenggantikan hasil pengenalan secara langsung
dari pengetahuan intuitif. Salah satu di antara unsut-unsur yang berharga dalam
intuisionisme Bergson ialah, paham ini memungkinkan adanya suatu bentuk
pengalaman di samping pengalaman yang dihayati oleh indera. Dengan demikian
data yang dihasilkannya dapat merupakan bahan tambahan bagi pengetahuan di
samping pengetahuan yang dihasilkan oleh penginderaan.
Kant masih tetap benar dengan mengatakan bahwa pengetahuan
didasarkan pada pengalaman, tetapi dengan demikian pengalaman harus meliputi
baik pengalaman inderawi maupun pengalaman intuitif. Hendaknya diingat,
intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan
pengetahuan yang disimpulkan darinya. Intusionisme – setidaktidaknya dalam
beberapa bentuk hanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap di peroleh
melalui intuisi, sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbiyang meliputi
sebagian saja-yang diberikan oleh analisa. Ada yang berpendirian bahwa apa yang
diberikan oleh indera hanyalah apa yang menampak belaka, sebagai lawan dari apa
yang diberikan oleh intuisi, yaitu kenyataan. Mereka mengatakan, barang sesuatu
tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak kepada kita, dan hanya
intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya.
Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan,yang secara
pasif menerima hasil-hasilpenginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan
kita betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman
inderawi yang pertama-tama, yang dapat diibaratkan sebagai atom- atom yang
menyusun objek-objek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak
kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau setidaktidaknya bukanlah
pengetahuan mengenai hal-hal yang factual.
c.
Objeck Epistemologi
1. Logika Material adalah usaha untuk menetapkan kebenaran dari
suatu pemikiran di tinjau dari segi isinya. Lawannya adalah logika formal
(menyelidiki bentuk pemikiranyang masuk akal). Apabila logika formal
bersangkutan dengan bentuk-bentuk pemikiran,aka logika material bersangkutan
dengan isi pemikiran. Dengan kata lain, apabilalogika formal yang biasanya
disebut istilah’logika’berusaha untuk menyelidiki danmenetapkan bentuk
pemikiran yang masuk akal, maka logika material berusaha untukmenetapkan
kebenaran dari suatu pemikiran ditinjau dari segi isinya. Maka dapatdisimpulkan
bahwa logika formal bersangkutan dengan masalah kebenaran formal seringdisebut
keabsahan (jalan) pemikiran. Sedangkan logika material bersangkutan dengankebenaran
materiil yang sering juga disebut sebagai kebenaran autentik atau
otentisitasisi pemikiran.
2.Kriteriologia berasal
dari kata kriterium yang berarti ukuran. Ukuran yang dimaksud adalah
ukuran untuk menetapkan benar tidaknya suatu pikiran atau pengetahuan
tertentu.Dengan demikian kriteriologia merupakan suatu cabang filsafat yang
berusaha untuk menetapkan benar tidaknya suatu pikiran atau pengetahuan
berdasarkan ukuran tentangkebenaran.
3.Kritika Pengetahuan adalah pengetahuan yang berdasarkan tinjauan
secara mendalam, berusaha menentukan benar tidaknya suatu pikiran atau
pengetahuan manusia.
4.Gnoseologia (gnosis = keilahian, logos = ilmu pengetahuan)
adalah ilmu pengetahuan atau cabang filsafat yang berusaha untuk memperoleh
pengetahuan mengenai hakikat pengetahuan, khususnya mengenahi pengetahuan yang
bersifat keilahian.
5.Filsafat pengetahuan menjelaskan tentang ilmu pengetahuan
kefilsafatan yang secara khusus akan memperoleh pengetahuan tentang hakikat
pengetahuan. J.A.Niels Mulder menjelaskan bahwa epistimologi adalah cabang
filsafat yang mempelajari tentang watak, batas-batas dan berlakunya dari ilmu
pengetahuan. Abbas Hamami Mintarejo berpendapat
bahwa epistemologi adlah bagian filsafat atau cabang filsafat yang membicarakan
tentang terjadinya pengetahuan dan mengadakan penilaian atau pembenaran dari
pengetahuan yang telah terjadi itu.
Dalam
epistimologi dikenal dengan 2 aliran, yaitu:
1.Rasionalisme
: Pentingnya akal yang menentukan hasil/keputusan.
2.Empirisme
: Realita kebenaran terletak pada benda kongrit yang dapat diindra
karena
ilmu atau pengalam impiris.
2.
Aksiologi
a.
Pengertian
Aksiologi adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu: axios
yang berarti nilai. Sedangkan logos berarti teori/ ilmu. Aksiologi merupakan
cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya.
Aksiologi dipahami sebagai teori nilai. Jujun S.suriasumantri mengartikan
aksiologi sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan
yang diperoleh. Menurut John Sinclair, dalam lingkup kajian filsafat nilali
merujuk pada pemikiran atau suatu sistem seperti politik, sosial dan agama.
Sedangkan nilai itu sendiri adalah sesuatu yang berharga yang diidamkan oleh
setiap insan.
Aksiologi adalah bidang yang menyelidiki nilai-nilai (value).
Nilai dan implikasi aksiologi di dalam pendidikan ialah pendidikan yang menguji
dan mengintegrasikan semua nilai (nilai tindakan moral, nilai ekspresi
keindahan dan nilai kehidupan sosio-politik) di dalam kehidupan manusia dan
membinanya ke dalam kepribadian anak. Pertanyaan yang berkaitan dengan
aksiologi adalah apakah yang baik atau bagus? (Muhammad Noor Syam,
1986
dalam Jalaludin, 2007: 84).
Aksioloagi adalah ilmu yang membecirakan tentang tujuan ilmu
pengetahuan itusendiri. Jadi, aksiologi merupakan ilmu yang mempelajari hakikat
dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan, dan sebenarnya ilmu pengetahuan
itu tidak ada yang sia-sia kalau kita bisa memanfaatkannya dan tentunya
dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan dijalan yang baik pula karena
akhir-akhir ini banyak sekali yang mempunyai ilmu pengetahuan yang lebih itu
dimanfaatkan dijalan yang tidak benar.
Pembahasan aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Ilmu
tidak bebas nilai. Artinya pada tahap-tahap tertentu kadang ilmu harus
disesuaikan dengan nilai-nilai budaya dan moral suatu masyarakat, sehingga
nilai kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dalam usahanya
meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya malah menimbulkan bencana.
Dalam aksiologi ada dua penilaian yang umum digunakanyaitu:
1.Etika
Etika adalah cabang filsafat yang membahas secara kritis dan
sistematis masalah-masalah moral. Kajian etika lebih fokus pada perilkau, norma
dan adat istiadat manusia. Etika merupakan salah satu cabang filsafat tertua.
Setidaknya ia telah menjadipembahasan menarik sokrates dan para kaum
shopis.disitu dipersoalkan mengenai masalah kebaikan, keutamaan, keadilan dan sebagainya.
Etika sendiri dalam buku etika dasar yang ditulis oleh Franz Magnis Suzeno
diartikan sebagai pemikiran kritis, sistematis dan mendasar tentang
ajaran-ajaranm dan pandangan-pandangan moral ini sebagaimana telah dijelaskan
diatas adalah norma adat, wejangan dan adatistiadat manusia. Berbeda dengan
norma itu sendiri etika tidak menghasilkan suatu kebaikan atau perintah dan
larangan, melainkan sebuah pemikiran yang kritis dan mendasar. Tujuan dari
etika adalah agar manusiamengetahui dan mampu mempertanggungjawabkan apa yang
ia lakukan.
Di dalam etika, nilai kebaikan dari tingkah laku manusia menjadi
sentralpersoalan. Maksudnya adalah tingkah laku yang penuh dengan
tanggungjawab, baik tanggung jawab terhadap diri sendiri, masyarakat, alam
maupun terhadap Tuhan sebagai sang pencipta. Dalam perkembangan sejarah etika
ada 4 teori etika sebagai sistem filsafat moral yaitu hedonism, eudemonisme,
utiliterisme dan deontologi. Hedoisme adala pandangan moral yang menyamakan
baik menurut pandangan moral dengan kesenangan. Eudemonisme menegaskan setiap
kegiatan manusia mengejar tujuan. Dan adapun tujuan dari amnesia itu sendiri
adalah kebahagiaan. Selanjutnya utilitarisme yang berpendapat bahwa tujuan
hukum adalah memajukan kepentingan para warga negara dan bukan memaksakan
perintah-perintah illahi atau melindungi apa yang disebut hak-hak kodrati.
Selanjutnya deontologi adalah pemikiran tentang moral yang diciptakan oleh
Immanuel Kant. Menurut Kant, yang bisa disebut baik secara terbatas atau dengan
syarat. Misalnya kekayaan manusia apabila digunakan dengan baik oleh kehendak
manusia.
2.Estetika
Estetika merupakan bidang studi manusia yang mempersoalkan tentang
nilai keindahan. Keindahan mengandung arti bahwa didalam diri segala sesuatu
terdapatunsur-unsur yang tertata secara tertib dan harmonis dalam satu kesatuan
hubungan yangutuh menyeluruh. Maksudnya adalah suatu objek yang indah bukan
semata-mata bersifatselaras serta berpola baik melainkan harus juga mempunyai
kepribadian. Sebenarnya keindahan
bukanlah merupakan suatu kulaitas objek, melainkansesuatu yang senantiasa
bersangkutan dengan perasaan. Misalnya kita bangun pagi,matahari memancarkan
sinarnya kita merasa sehat dan secara umum kita merasaknkenikmatan. Meskipun
sesungguhnya pagi itu sendiri tidak indah tetapi kitamengalaminya dengan
perasaan nikmat. Dalam hal ini orang cenderung mengalihkanperasaan tadi menjadi
sifat objek itu, artinya memandang keindahan sebagai sifat objekyang kita
serap. Padahal sebenarnya tetap merupakan perasaan. Aksiologi berkenaan dengan
nilai guna ilmu, baik itu ilmu umum maupun ilmuagama, tak dapat \ dibantak lagi
bahwa kedua ilmu itu sangat bermanfaat bagi seluruhumat manusia, dengan ilmu
seseorang dapat mengubah wajah dunia. Berkaitan dengan hal ini, menurut Francis
Bacon seperti yang dikutip oleh Jujun S. suriasumantri yaitu bahwa “pengetahuan
adalah kekuasaan” apakah kekuasaan itu merupakan berkat ataujustru malapetaka bagi umat manusia. Memang kalaupun
terjadi malapetaka yangdisebabkan oleh ilmu, bahwa kita tidak bissa mengatakan
bahwa itu merupakan kesalahan ilmu, karena itu sendiri ilmu merupakan alat bagi
manusia untuk mencapaikebahagiaan hidupnya, lagipula ilmu memiliki sifat
netral, ilmu tidak mengenal baikataupun buruk melainkan tergantung pada pemilik
dalam menggunakannya.
Daftar Pustaka
Bakhtiar,
Amsal. 2010. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
http://ueu5783.weblog.esaunggul.ac.id/wpcontent/uploads/sites/2385/2013/11/ONTOLOGI.pdf
Komentar
Posting Komentar