1. Marketing Public Relation
Mengapa pemasaran penting?
The UK Chartered Institute of Marketing menyatakan:
pemasaran adalah manajemen yang dilakukan untuk mengidentifikasi,
mengantisipasi dan menyalurkan permintaan konsumen secara efisien dan
menguntungkan bagi perusahaan.
Pemasaran adalah katifitas pengendali secara menyeluruh
atas strategi penjualan suatu perusahaan. Fokus dari pemsaran adalah melayani
penjualan. Kita dapat melihatp entingnya pemasaran bagi perusahaan dengan
melihat 2 tipe bisnis yang berbeda, yaitu market led Company dan Produc led Company.
Alat dan teknik public relations yang sering
digunakan untuk menunjang marketing dan sasaran penjualan suatu bisnis disebut
“Komunikasi Marketing” atau “Marketing Public Relations”. Staf PR yang bekerja
di bidang ini biasanya tergabung dalam divisi marketing. Public Relations yang
berorientasi marketing dibentuk oleh suatu divisi baru, yakni “Komunikasi dan
Marketing”. Masuknya bidang PR
ke dalam marketing, karena peningkatan kebutuhan dan minat konsumen; harga
semakin kompetitif, perlu memperluas distribusi, banyaknya promosi dari
produk/jasa sejenis.
PR dapat menjadi efektif menopang fungsi marketing,
harus terlebih dahulu diperjelas dalam perencanaan marketing. Perencanaan harus
matang dalam menentukan sasaran dan target perusahaan, yaitu dengan penerapan
strategi dan taktik promosi untuk penjualan suatu produk.
PR digunakan dalam perencanaan marketing untuk
mencapai sejumlah sasaran
1.Membantu perusahaan dan nama produknya agar lebih
dikenal
2.Membantu mengenalkan produk baru atau peningkatan
produk
3.Membantu meningkatkan suatu produk life of style
contohnya menyempurnakan pesan iklan dan promosi penjualan dengan menambah
informasi baru
4.Mencari pangsa pasar baru dan memperluas
keberadaannya
5.Memantapkan semua image (citra) yang positif bagi
produk dan usahanya
Begitu erat dan pentingnya kerjasama antara bidang
public relations dan marketing, sehingga ada istilah untuk menggabungkan
aktifitas keduanya yang disebut dengan Marketing Public Relations (MPR). MPR
merupakan proses dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program-program
yang mendorong minat beli serta kepuasan konsumen, melalui penyampaian
informasi dan kesan yang meyakinkan, dalam usaha memperlihatkan bahwa
perusahaan dan produk-produknya sesuai dengan kebutuhan, keinginan,
kepentingan, dan minat konsumen.
MPR memperkuat fungsi manajemen perusahaan dan
mendukung tujuan pemasaran.Corporate Public Relations (CPR) memiliki fungsi
manajemen perusahaan dan mendukung tujuan perusahaan.Kaitan antara MPR dan CPR
adalah suatu kemitraan yang saling mempengaruhi. Hal ini tidak akan tercapai
bila MPR dan CPR sama-sama melihat sebagai lawan bukan sekutu.
Sebagai PR yang tidak lepas dari strategi, MPR
senantiasa memperhatikan strategi pemasaran, diikuti pengembangan sarana dan
hasil secara langsung berhubungan dengan pembelian dan penjualan.
Namun diatas semua itu, yang paling penting adalah
bahwa strategi marketing selalu ditekankan pada titik pandang PR, yang
melengkapi suatu blueprint (detail plan of action/rencana rinci kegiatan), yang
sesungguhnya bisa diikuti oleh siapapun juga, baik berpengalaman ataupun tidak
sama sekali dalam bidang pemasaran.
Prosedur-prosedur PR dilukiskan guna mencapai tujuan
strategis yang dalam banyak contoh adalah efektif serta lebih kuat dibanding
pendekatan marketing tradisional.Yang menyoroti pentingnya peran PR dalam
marketing communication mix. Banyak para manajer tidak menyadari bahwa
periklanan tidak bisa untuk mencapai segalanya, situasi pemasaran tertentu
dapat menetralisir apa yang ingin dicapai melalui periklanan. Sementara situasi
yang sama sebenarnya dapat ditangani secara efektif dan ekonomis melalui PR.
Dalam perkembangannya, jumlah perusahaan yang
berorientasi pada pemasaran telah
memiliki dan menempatkan tanggungjawab baru yang lebih mapan dan fokus pada
divisi public relations (PR). PR ditempatkan lebih luas dan lebih pada
marketing oriented perspective, didesain untuk mempromosikan organisasi sebaik
produknya atau pelayanannya.
Cara perusahaan dan organisasi menggunakan public
relations bisa dikategorikan dalam suatu kontinum.Satu sisi kontinum
menggunakan PR dari perspektif tradisional.Dalam perspektif ini, public
relations dilihat sebagai fungsi non marketing dimana terdapat tanggungjawab
utama untuk memelihara relationship yang saling menguntungkan antara organisasi
dan publiknya.Dalam kasus ini, konsumen atau konsumen potensial adalah bagian
dari publik yang beragam dan banyak yakni karyawan, investor, komunitas,
kelompok kepentingan dan lainnya.Marketing dan public relations adalah suatu
departemen yang terpisah. Di sisi lain kontinum tersebut public relations
mempertimbangkan fungsi utama dari komunikasi pemasaran. Dalam organisasi ini,
public relations melaporkan aktivitasnya pada marketing. Pada saat yang sama,
untuk beberapa organisasi dimana fungsi PR nya bergerak lebih dari peran
utamanya, dimana lebih dekat pada fungsi pemasaran daripada fungsi
tradisionalnya.
Dalam peran baru public relations, manager
menekankan pada kegiatan baik pemasaran yang kuat dan PR departemen yang kuat
pula.Lebih dari departemen yang dioperasikan secara independen, keduanya
bekerja secara dekat dan bersama, menggabungkan kedua talenta untuk mendukung
image terbaik secara keseluruhan atas perusahaan dan produk atau pelayanan
organisasi. Dalam riset yang dilakukan Public Relations Society of America
(PRSA) dan dimuat di PR News (AS), 76 persen responden menyebutkan bahwa
pekerjaan utama dan reguler adalah pekerjaan dengan departemen pemasaran, 78
persen berpikir bahwa anggota departemen pemasaran ternyata memiliki persepsi
yang positif terhadap Departemen PR dan jumlah yang setara yang mengindikasikan
persepsi yang sama terhadap marketing, dimana terdapat rentang koordinasi dan
aktivitas yang berbeda, itulah suatu refleksi dari adanya koordinasi dan
kerjasama diantara mereka.
Terdapat beberapa argumen tentang semakin kuatnya
keterlibatan PR. Dalam buku The Fall of Advertising and The Rise of PR, Al Ries
dan saudara perempuannya Laura, berargumen bahwa sementara advertising masih
tetap menjadi medium yang dominan yang digunakan oleh pemasaran, namun
kenyataannya terdapat penurunan. Advertising sebagai alat komunikasi yang
efektif, tidak akan lebih efektif untuk mengenalkan dan membangun sebuah brand
baru. Hanya ada satu cara membangun brand saat ini yakni melalui public
relations. Kita ketahui bahwa Al Ries adalah seorang yang memiliki perspektif
pemasaran, dan dia adalah seseorang yang memperkenalkan tentang konsep
positioning, dan yang pasti tidak semua pemikir pemasaran setuju akan konsep
ini.
PR didesain untuk mendukung tujuan pemasaran sebagai
fungsi marketing public relations.Tujuan pemasaran mungkin disupport oleh
aktivitas public relations termasuk peningkatan awareness, menginformasikan dan
mengedukasi, mencapai pemahaman, membangun kepercayaan, memberikan konsumen
alasan untuk membeli dan memotivasi penerimaan konsumen. MPR menambahkan nilai
untuk program pemasaran terpadu dalam beberap cara yang meliputi:
1.
Membangun lingkungan
marketing yang kondusif sebelum dijalankannya aktivitas periklanan.
2.
Meningkatkan ROI.
3.
Membentuk berita umum
bukan berita produk melalui aktivitas periklanan.
4.
Mengenalkan produk
dengan aktivitas periklanan atau tanpa aktivitas periklanan.
5.
Menyiapkan nilai tambah
pelayanan konsumen.
6.
Membangun brand untuk
konsumen
7.
Mengurangi produk yang
mengandung resiko dan memberi konsumen alasan untuk membeli.
Sejumlah keuntungan dalam
menggunakan MPR adalah:
- Cara yang efektif untuk
mencapai pasar
- Cara yang tepat untuk
mengelola public relations
- Keuntungannya adanya dukungan
dari kelompok independen / kelompok kepentingan dan tujuan pihak ketiga
yang tidak memiliki asosiasi dengan produk
- Mendukung tercapainya
kredibilitas
- Mendukung program
periklanan melalui pembuatan pesan yang lebih krediblel
- Dapat mendukung keterlibatan
media dalam komunikasi dengan konsumen
- Dapat mempengaruhi opini
dari pembuat berita / opinion leaders dan para trendsetter
- Dapat meningkatkan ROI
Kekurangannya adalah:
- Kurangnya kontrol pada
media
- Sulitnya untuk
menempatkan slogan dalam alat
periklanan lainnya
- Tidak ada jaminan
pengalokasian berita media dan sekaligus penggunaan ruang media
- Tidak ada standar yang
efektif dalam pengukurannya.
Untuk
menjaga kesuksesan program MPR haruslah melibatkan dalam elemen IMC. Sehingga
PR pun dapat dimaksimalkan, sekalipun dengan praktik tradisional PR, digunakan
sebaik pengguna elemen elemen IMC.
2.
Branding dan Re-Branding
Brand
adalah aset yang berharga, mengkomunikasikan secara jelas nilai-nilai kepada
stakeholdernya. Branding adalah proses penciptaan sebuah brand image yang
menarik hati dan pikiran seorang konsumen. Branding bukan hanya sekedar desain
dari sebuah logo perusahaan.Branding merupakan sebuah hubungan antara konsumen
dan perusahaan, antara konsumen dan produk atau antara konsumen dan
jasa.Branding harus dibangun melalui “titik temu” yang berbeda dengan konsumen.
Titik temu ini dapat berupa periklanan, hubungan masyarakat, proses penjualan,
kemasan, harga, positioning, dan sebagainya.
Rebranding
dapat terjadi pada 3 level yang berbeda dalam sebuah organisasiyaitu:
corporate, business unit, dan product levels. Corporate Rebranding berarti
penamaan kembali corporate identity secara keseluruhan,yang sering kali
mengindikasikan perubahan besar dalam level strategis
ataurepositioning.Sedangkan dalam level bisnis unit berarti, sebuah situasi
dimana subsidiary ataudivisi dalam satu perusahaan besar diberikan nama yang
berbeda sebagai identitas yangberbeda dari perusahaan induknya.Untuk level
individual produk, rebranding relatif jarang terjadi dan lebih kepadapergantian
nama produk.
Rebranding
adalah penciptaan tampilan baru untuk produk yang sudah mapan dengan tujuan
untuk mendiferensiasikan produk dari pesaingnya.
Berikut
adalah beberapa alasan atau tanda-tanda sebuah perusahaan perlu untuk melakukan
rebranding :
1. Kompetisi
Dalam kondisi lingkungan yang dinamis, dengan
kompetisi yang semakin agresif, rebranding sangat mungkin dibutuhkan untuk
mengubah penawaran pada pasar dengan tujuan menciptakan alasan yang lebih tepat
dalam benak konsumen target.
Rebranding
juga dapat digunakan sebagai sarana untuk memblokir pesaing atau untuk
menangani kenaikan harga yang kompetitif
2. Relevansi
Sebuah merek perlu untuk tetap relevan dengan target
pasar, untuk mengikuti waktu dan untuk mengikuti perubahan kebutuhan pelanggan
(misalnya layanan, aksesibilitas, kenyamanan, pilihan, perubahan tren dan
teknologi).
Brand yang terlihat kuno di mata konsumen, memiliki
bahaya stagnansi jika belum berada dalam kehilangan dan erosi pangsa pasar.
3. Inovasi
Teknologi terus berkembang dengan laju perubahan
yang seringkali eksponensial. Jika sebuah brand berhubungan dengan teknologi
seperti internet, software, hardware dan produk-produk yang secara konstan
berinovasi, maka rebrand akan mengikuti perubahan yang cepat secara alami.
Rebranding atau revitalisasi menjadi ekspresi yang
dimunculkan oleh evolusi perusahaan dan memastikan perubahan brand akan membuat
konsumen yang haus teknologi akan terus kembali untuk melihat ‘apa yang baru’
4. Repositioning
Merubah positioning suatu brand merupakan proses
yang saling berkaitan. Misalnya merubah strategi harga dari harga ekonomis
menjadi harga premium, maka perlu rebranding untuk memberikan sinyal adanya
suatu perubahan dalam arah, layanan, penawaran produk, fokus, sikap dan
strategi pada target pasar.
5. Globalisasi
Terkadang rebranding diperlukan karena adanya
globalisasi, ketika suatu produk akan diluncurkan di beberapa pasar yang tidak
konsisten atau berbeda
6. Merger dan akuisisi
Ketika dua entitas digabungkan, keperluan komunikasi
menjadi terbagi pada dua jenis target konsumen. Terkadang hal ini membutuhkan
rebranding agar dapat diterima oleh kedua jenis target ini. Dalam kasus lain,
salah satu merek mungkin lebih dominan, sehingga dibutuhkan lebih dari
revitalisasi atau penyegaran ketika merek menjadi pemain dominan tunggal.
7. Rasionalisasi
Rebranding dapat dilakukan untuk mengurangi biaya
operasional usaha, atau sebagai upaya untuk melawan hilangnya kepercayaan
konsumen atau penurunan profitabilitas.
8. Perkembangan
Ketika sebuah perusahaan kecil berkembang menjadi
perusahaan yang lebih besar, mereka atau produk mereka seringkali memerlukan
rebranding atau revitalisasi untuk memenuhi kebutuhan bisnis yang lebih besar.
9. Reputasi dan moral
Jika sebuah perusahaan mengalami demoralisasi
karyawan atau konsumen yang bingung, maka diperlukan rebranding. Proses
rebranding dapat membantu perusahaan memahami masalah-masalah yang perlu untuk
ditangani dan dapat diselesaikan melalui perubahan-perubahan penting, selain
itu juga dapat memberikan penampilan dan suasana baru pada organisasi.
10. Kepentingan hukum
Terkadang masalah hukum mungkin timbul, sehingga
perusahaan perlu melakukan perubahan branding seperti masalah hak cipta atau
kebangkrutan.Dalam kasus reputasi yang rusak, rebranding menjadi sebuah
kebutuhan yang lebih mendesak.

Rebranding memakan waktu yang lama karena harus mempertimbangkan beberapa faktor, diantaranya faktor internal dan eksternal.Faktor internal misalnya, perusahaan harus mempertimbangkan secara matang apakah perubahan ini membawa pengaruh yang besar bagi karyawannya dalam menjalankan tugasnya, karena karyawan harus memperkenalkan kembali logo baru tersebut ke masyarakat.Dalam melakukan rebranding perusahaan sedikit banyak harus mendapat kesempatan bersama dari para karyawannya.Faktor eksternal ialah masyarakat dan stakeholder.Perusahaan harus mempertimbangkan juga apakah dengan perubahan logo, masyarakat memahami maksud dan tujuan yang hendak dicapai perusahaan.
Untuk menciptakan brand sebuah perusahaan dalam hal ini ialah logo, tidaklah mudah.Ada dua komponen penting yang perlu dipertimbangkan, yakni tampilan dan bahasa.Tampilan berhubungan dengan logo bisnis atau produk. Sebuah logo yang efektif seharusnya :
· Unik.
· Dengan segera memberitakan sifat alami bisnis, produk, atau servis. Hal ini dapat ditafsirkan dengan dua cara yaitu literal dan abstrak.
· Menarik bagi target penonton.
· Tidak tergantikan karena pergantian waktu (tahan lama).
· Dapat bekerja dalam semua konteks potensi komunikasi.
Aspek kedua
yang sama pentingnya dalam membuat brand ialah bahasanya atau cara
mengungkapkannya. Hal ini sering dijelaskan sebagai tagline atau cara
memposisikan pernyataan. Hal ini digunakan untuk meyakinkan konsistensi dan
kelanjutan dari kedua hal yaitu penampilan dan bahasa menggambarkan perusahaan
yang sekarang kepada pelanggan.
PENUTUP
Alat dan teknik public relations yang sering
digunakan untuk menunjang marketing dan sasaran penjualan suatu bisnis disebut
“Komunikasi Marketing” atau “Marketing Public Relations”. Staf PR yang bekerja
di bidang ini biasanya tergabung dalam divisi marketing. Public Relations yang
berorientasi marketing dibentuk oleh suatu divisi baru, yakni “Komunikasi dan
Marketing”. Masuknya bidang PR
ke dalam marketing, karena peningkatan kebutuhan dan minat konsumen; harga
semakin kompetitif, perlu memperluas distribusi, banyaknya promosi dari
produk/jasa sejenis.Branding adalah proses penciptaan
sebuah brand image yang menarik hati dan pikiran seorang konsumen. Rebranding
adalah penciptaan tampilan baru untuk produk yang sudah mapan dengan tujuan
untuk mendiferensiasikan produk dari pesaingnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Butterick,Keith. Public Relations.
2014. Jakarta: Rajawali pers.
Greener, Tony. Kiat Sukses Public
Relations dan Pembentukan Citranya. 2002.Jakarta: Bumi
Aksara.
Rusla, Nursari.
“PERAN MARKETING PUBLIC RELATION PADA
OLGA! GIRLS MAGAZINE
SEMARANG”.2010.
Surkarta:Universitas Sebelas Maret
Sumandy,Iman Dwi Mulyana. Marketing Public Relations. 2000. Jakarta .
Komentar
Posting Komentar